Minggu, 27 Oktober 2013

PERATURAN WILAYAH INDUSTRI

Selain mengatur tentang izin usaha industri, dalam peraturan pemerintah juga mengatur tentang wilayah industri. Pemerintah dapat menetapkan wilayah-wilayah pusat pertumbuhan industry serta lokasi bagi pembangunan industri sesuai dengan tata ruang wilayah.

Makin meningkatnya pembangunan terutama sektor industri menyebabkan meningkatnya dampak terhadap lingkungan. Kita harus menyadari, apalah arti pembangunan jika mengabaikan prinsip wawasan lingkungan. Tahukah kamu bagaimana prinsip pembangunan berwawasan lingkungan? Prinsip pembangunan berwawasan lingkungan memang harus kita pegang. Terlebih lagi pada kegiatan di bidang industri.

Mengapa? Ya, karena kegiatan industri menjadikan lingkungan sebagai objek. Contohnya pengambilan bahan mentah yang berasal dari lingkungan. Pengambilan sumber daya alam yang dapat diperbarui, harus memerhatikan regenerasi terhadap sumber daya alam tersebut. Misalnya penebangan kayu di hutan harus disertai dengan reboisasi.

Tidak hanya pengambilan sumber daya alam yang diperbarui, pengambilan sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui, seperti tambang batu bara harus dilakukan dengan pengelolaan lingkungan yang baik. Setiap tahap kegiatan industry harus dikelola dengan baik, hingga tidak memberikan dampak buruk terhadap lingkungan. Dampak buruk akibat berdirinya suatu industri antara lain pencemaran air, udara, dan tanah.

Pencemaran air bisa terjadi di sungai, danau bahkan di laut. Pencemaran terjadi manakala limbah yang dibuang belum dinetralkan terlebih dahulu. Jika air tercemar, organisme air bisa mati dan air tidak bisa digunakan lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduk di sekitar perairan tersebut. Bahkan, terkadang karena parahnya pencemaran, air tidak dapat digunakan lagi untuk pertanian dan para nelayan rugi akibat hasil tangkapan ikan berkurang.

Oleh karena itu, pemerintah telah menetapkan kebijakan dengan peraturan pengolahan limbah bagi tiap industri yang menghasilkan limbah. Pengelolaan limbah dilakukan dengan terlebih dahulu menampung limbah sementara pada bak pengolahan limbah untuk dinetralkan agar tidak berbahaya bagi lingkungan.

Pencemaran lingkungan juga dapat terjadi di udara. Udara tercemar oleh debu dan asap dari berbagai industri. Pencemaran udara pada tingkat yang lebih lanjut dapat menyebabkan terjadinya hujan asam. Beberapa contoh di atas merupakan dampak yang patut kita perhitungkan untuk menentukan lokasi industri.

Kajian geografi berperan dalam penentuan lokasi industri. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi industri adalah aspek biofisik. Aspek biofisik meliputi penggunaan lahan, kemiringan lereng dan relief, kedalaman muka air tanah, tekstur tanah, kedalaman tanah, banjir, serta jaringan jalan.


1) Penggunaan Lahan
Apakah semua lahan cocok dipilih menjadi lokasi industri? Bayangkan saja jika kamu tinggal di suatu kawasan permukiman yang dekat dengan lokasi industri. Apa yang kamu rasakan? Mungkin kamu akan mengalami gangguan seperti bising, getaran, bau, debu, bahkan mungkin kemacetan lalu lintas. Jika kamu tinggal di lokasi yang demikian, berarti kamu berada pada zona campuran (mix used zoning), yaitu zona yang menunjukkan hubungan sinergis antara industry dengan permukiman. Tetapi, harus diakui bahwa kedekatan industri dengan permukiman juga memunculkan kerawanan seperti yang telah disebutkan tadi.

Lokasi industri yang berdekatan dengan situs purbakala juga menimbulkan kerawanan. Keberadaan situs purbakala sangat dilindungi. Karena itu, pendirian lokasi industri seharusnya tidak merusak situs purbakala yang telah ada. Lalu, lahan seperti apakah yang sesuai untuk dijadikan lokasi industri? Lahan kebun atau tegalan lebih mudah diubah menjadi suatu lokasi industri daripada lahan permukiman. Sebenarnya pemerintah telah mengatur penggunaan lahan dalam tata ruang daerah. Tetapi, sulit untuk menentukan lokasi industri yang benar-benar jauh dari permukiman, terutama di kota-kota besar di Jawa.

Dalam perencanaan pengembangan wilayah termasuk perencanaan pengembangan industri perlu mengetahui penggunaan lahan lainnya, karena ada beberapa penggunaan lahan yang tidak boleh dialihfungsikan, yaitu sawah irigasi, permukiman, kawasan lindung (sempadan sungai, sempadan pantai, serta kawasan strategis militer).

Perlindungan terhadap lahan pertanian terutama yang beririgasi teknis dan lahan dengan fungsi utama melindungi sumber daya alam dari pengaruh kawasan industri diatur dalam Keppres Nomor 41 Tahun 1996. Coba perhatikan table klasifikasi bentuk dan harkat penggunaan lahan untuk lokasi industri berikut ini.


Tabel 3.1 Klasifikasi Bentuk dan Harkat Penggunaan Lahan untuk Lokasi Industri





2) Kemiringan Lereng
Kemiringan lereng memengaruhi kestabilan lahan. Lereng yang terjal, cenderung kurang stabil. Pada lereng terjal sering terjadi longsor dan rawan terhadap erosi. Jika lahan mempunyai karakteristik demikian tentu saja akan berbahaya bagi lokasi industri. Lahan yang sesuai untuk lokasi industry mempunyai kemiringan lereng yang datar sampai landai.

Tidak percaya? Coba kamu perhatikan beberapa lokasi industri melalui peta topografinya atau pengamatan langsung. Bagaimana kemiringan lereng di lokasi tersebut? Semuanya menempati daerah yang berlereng landai atau dataran. Kemiringan lereng merupakan aspek yang harus dipertimbangkan dalam penentuan lokasi industri. Semakin besar kemiringan lerengnya, maka akan semakin besar pula investasi yang harus dikeluarkan untuk penanganannya.

Hal ini disebabkan faktor pemotongan dan penimbunan lereng untuk bangunan, serta pertimbangan stabilitas lereng. Selain itu, kemiringan lereng juga akan berpengaruh terhadap kecepatan aliran dan volume aliran permukaan yang dapat mengakibatkan banjir. Nilai kemiringan lereng yang sesuai untuk lokasi industri dapat kamu lihat pada tabel berikut ini. Harkat yang tinggi menunjukkan kecocokan yang tinggi untuk lokasi industri.


Tabel 3.2 Klasifikasi Kelas dan Harkat Kemiringan Lereng untuk Lokasi Industri




3) Kedalaman Muka Air Tanah
Air tanah merupakan bagian dari air di Bumi yang berasal dari air hujan. Meskipun jumlahnya hanya 0,75% dari total air di Bumi, air tanah merupakan air tawar yang banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti memasak, mandi, mencuci, bahkan sebagian jenis industry memerlukannya. Air tanah akan mudah tercemar apabila mempunyai kedalaman yang dangkal atau mendekati permukaan tanah.

Kondisi yang demikian membuat air tanah mudah terkontaminasi oleh limbah industri. Oleh karena itu, untuk mengurangi risiko pencemaran, lokasi yang sesuai untuk lokasi industri adalah lahan dengan karakteristik muka air tanah berada jauh dari permukaan tanah. Nilai kedalaman muka air tawar yang sesuai untuk lokasi industri dapat dilihat pada tabel berikut.


Tabel 3.3 Klasifikasi Harkat dan Kedalaman Muka Air Tanah untuk Lokasi Industri




4) Tekstur Tanah
Masih ingat dengan karakteristik tanah yang pernah dipelajari di kelas X? Salah satu karakteristik tanah adalah tekstur tanah. Tekstur tanah merupakan salah satu sifat fisik tanah yang merupakan perbandingan relatif berbagai golongan besar partikel tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara unsur-unsur pasir, debu, dan lempung. Lalu, apa hubungan tekstur tanah dengan pemilihan lokasi industri? Tekstur tanah memberikan pengaruh terhadap tingkat kestabilan tanah, daya permeabilitas, dan infiltrasi air.

Contoh tekstur tanah adalah lempung. Tanah bertekstur lempung mempunyai daya permeabilitas dan infiltrasi yang rendah. Akibatnya, air cenderung menggenang. Apabila kering, tanah dengan kandungan lempung yang tinggi akan pecah-pecah. Kondisi yang demikian dinamakan kondisi kembang kerut tanah. Jika, kondisi kembang kerut tanah tinggi, maka tanah cenderung tidak stabil dan kurang layak bagi bangunan, termasuk bangunan untuk industri. Bagaimanakah tekstur yang cocok untuk lokasi industri? Pada tanah dengan kandungan partikel lempung, pasir, dan debu yang seimbang umumnya cocok didirikan bangunan, karena daya kembang kerut relatif rendah. Tekstur tanah ini dinamakan tekstur geluh.

Nilai permeabilitas dan infiltrasi sedang tidak membuat limbah cair cepat meresap ke dalam tanah dan tidak pula menimbulkan genangan di permukaan tanah. Tekstur geluh juga mendukung terhadap bangunan industri maupun bangunan pengelolaan limbah. Nilai kembang kerut tanah yang rendah mendukung keawetan bangunan. Tanah dengan tekstur ini relatif bereaksi stabil terdapat perubahan cuaca. Pada suhu yang tinggi, tanah tidakakan retak-retak. Sementara jika suhu rendah dalam musim hujan, tanah tidak menggenangkan air terlalu lama. Berbagai macam kondisi tekstur tanah dari yang sesuai sampai yang kurang sesuai untuk lokasi industri dapat kamu lihat pada tabel berikut ini.


Tabel 3.4 Klasifikasi dan Harkat Tekstur Tanah untuk Lokasi Industri




5) Kedalaman Tanah
Kedalaman tanah merupakan aspek yang perlu diperhatikan dalam pendirian bangunan termasuk bangunan industri. Kedalaman tanah perlu dipertimbangkan, karena aspek ini berpengaruh dalam pembiayaan, yaitu proses pembuatan fondasi. Nilai kedalaman tanah yang dangkal cenderung tidak sesuai untuk lokasi industri. Kedalaman tanah yang dangkal memerlukan biaya penggalian lebih besar dalam pembuatan fondasi dibandingkan dengan kedalaman tanah yang dalam. Berbagai nilai kedalaman tanah untuk lokasi industry ditunjukkan pada tabel berikut.


Tabel 3.5 Klasifikasi dan Harkat Kedalaman Tanah untuk Lokasi Industri




6) Banjir
Apabila kita cermati kawasan-kawasan industri di Indonesia pada umumnya terletak di dataran. Daerah datar memiliki kelebihan dan kekurangan untuk lokasi industri. Salah satu kekurangannya sering terjadi banjir. Oleh karena itu, factor banjir perlu dipertimbangkan dalam penentuan lokasi industri. Nilai-nilai kerawanan bencana banjir untuk lokasi industri ditunjukkan pada tabel berikut ini.


Tabel 3.6 Klasifikasi dan Harkat Kerawanan Bencana Banjir untuk Lokasi Industri




7) Jaringan Jalan
Jaringan jalan berperan penting dalam aksesibilitas atau daya angkut barang dan manusia. Jaringan jalan terbagi menjadi beberapa kelompok sebagai berikut.
a) Jalan utama, merupakan jalan raya yang melayani lalu lintas yang tinggi antarkota penting atau antarpusat kota. Jalan-jalan utama dibangun untuk dapat melayani lalu lintas yang cepat dan berat.
b) Jalan sekunder, merupakan jalan raya yang melayani lalu lintas yang cukup tinggi antara kota-kota penting dan kotakota yang lebih kecil. Jalan sekunder melayani daerahdaerah di sekitarnya.
c) Jalan penghubung, merupakan jalan untuk keperluan aktivitas daerah dan juga dipakai sebagai penghubung antara jalan-jalan dari golongan yang sama maupun yang berlainan. Jalan ini termasuk kelas jalan yang rendah.

Data mengenai jaringan jalan utama dapat diperoleh melalui interpretasi foto udara. Melalui interpretasi foto udara dapat diperoleh informasi mengenai jaringan jalan, seperti panjang, lebar, dan bahan jalan. Dari hasil interpretasi dapat dilakukan buffer terhadap jalan yang ada. Untuk melihat lokasi-lokasi yang jaraknya dekat dengan jalan utama. Pada lokasi-lokasi ini cocok untuk lokasi industri. Penilaian jarak lokasi dari jalan utama dapat dilihat pada tabel berikut.


Tabel 3.7 Jarak dari Jalan Utama




Dari paparan di depan, kamu telah mengetahui berbagai faktor yang dipertimbangkan dalam penentuan lokasi industri. Secara teknis, dalam geografi pekerjaan ini dapat dilakukan dengan mudah menggunakan bantuan teknologi SIG. Mengenai SIG akan dibahas pada bab IV. Nah, kegiatan berikut akan mengajakmu menemukan lokasi industri yang sesuai dengan menggunakan dasar SIG yang sederhana.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar