Sabtu, 27 April 2013

MEMPOPULERKAN KABUPATEN LUMAJANG MELALUI AGROWISATA DENGAN KOMODITI ANDALAN PISANG AGUNG

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

               

Lumajang adalah sebuah kota di provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini berbatasan dengan Jember di timur, Probolinggo di utara, dan Malang di barat. Sedangkan sebelah selatan berbatasan dengan samudera Hindia. Lumajang berlokasi sekitar 150 km ke arah tenggara Surabaya. Temperaturnya berkisar antara 24 (derajad Celcius) sampai 32 (derajad Celcius). Lumajang merupakan salah satu kota tertua di Jawa yang masih tetap ada hingga sekarang. Berdasarkan artifak Mula Malurung (1177 tahun Saka), Lumajang kemudian diperintah oleh Raja Narayya Kirana Sminingrat. Tanggal pada artifak yaitu 15 Desember 1255 berdasarkan kalender Gregorian, ditetapkan sebagai sebagai tanggal berdirinya Lumajang. Menhir yang ditemukan di kecamatan Senduro, Gucialit, Sukodono, Klakah, dan Lumajang terungkap bahwa pada masa pra sejarah, wilayah Lumajang yang sekarang ini sudah dihuni lama sebelum tanggal artifak Mula Malurung. Populasi di Lumajang terdiri atas suku Jawa, Madura, etnis Cina, dan Tengger.

 
Nama Kabupaten Lumajang ternyata kurang begitu populer daripada Jember, Probolinggo, atau Malang. Sebagai putera asli Lumajang saya sangat prihatin dengan kondisi seperti ini. Padahal di Lumajang terdapat begitu banyak tempat-tempat pariwisata yang begitu indah. Tempat wisata itu antara lain: pemandian alam Selokambang, danau segitiga (Ranu Klakah, Ranu Bedali, Ranu Pakis), danau kawah Semeru (Ranu Pane, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo), Gunung Semeru, Goa Tetes, dan Candi Mandara Giri. Selain itu masih terdapat beberapa pantai dan tempat wisata lain yang tidak kalah indah.

Masalah utama mungkin kurangnya promosi tempat wisata tersebut. Sehinggga banyak masyarakat yang tidak mengenal Lumajang. Oleh karena itu promosi pariwisata Lumajang harus diusahakan lebih gencar lagi. Salah satu usaha untuk mempopulerkan Lumajang adalah melalui produk atau komoditi andalan Lumajang yaitu pisang agung yang merupakan maskot kabupaten Lumajang. Pisang agung merupakan varietas pisang asli Lumajang.



BAB II
PEMBAHASAN

Keistimewaan Pisang Agung

Pisang merupakan tumbuhan asal Asia, yang tersebar hampir di seluruh belahan dunia, di antaranya di Spanyol, Italia, Indonesia, dan Amerika. Bahkan, di Indonesia keanekaragaman jenis pisang dapat ditemui. Salah satunya adalah pisang agung yang merupakan varietas lokal. Varietas ini diyakini asli Indonesia karena berasal dari Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
 
Karena diyakini sebagai varietas lokal Lumajang, jenis pisang agung talun akhirnya mendapat sertifikasi pengesahan dengan nama pisang agung semeru dari Lembaga Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura, September 2004. Sertifikasi itu diberikan setelah dikaji oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Karang Ploso, Malang, dan telah melakukan sidang sertifikasi di Dinas Pertanian Jatim.

Buah yang memberikan banyak arti bagi kehidupan masyarakatnya itu memang sangat tepat menjadi ikon Kabupaten Lumajang sebab tidak sedikit masyarakat di kabupaten yang memiliki gunung tertinggi di Pulau Jawa itu, yakni Gunung Semeru, menggantungkan kehidupan kepada buah pisang agung. Sebut saja mulai petaninya, pedagang besar, tukang angkut, penjual makanan di sekitar pasar pisang, pedagang kecil yang menjual secara eceran kepada konsumen, industri keripik pisang, dan konsumen rumah tangga lainnya.

Di Kecamatan Senduro, sekitar 40 kilometer dari Gunung Semeru, misalnya, sekitar 90 persen (37.854 jiwa) dari jumlah penduduk sekitar 42.061 jiwa (2004) itu bermata pencarian sebagai petani. Dari jumlah itu, sekitar 40 persen jiwa dipastikan memiliki pohon pisang agung yang ditanam di pekarangan rumah atau kebun.
Kota Lumajang terkenal sebagai kota penghasil pisang ”Agung”/ pisang Candi yang khas di Jawa Timur, ada juga yang lebih senang menyebutnya Pisang Gajah. Pisang ini sangat besar. Satu tandan pisang berisi antara 5, 10, atau 15 biji, panjang masing-masing antara 25 sampai 40 cm. Pisang adalah buah yang tidak mengenal musim, karena hampir sepanjang tahun selalu ada.
Berdasarkan data dari Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pertanian Kecamatan Senduro, populasi pisang agung di awal tahun 2004 mencapai 323 hektar dari luas total Kecamatan Senduro 52.000 hektar. Sementara populasi pisang mas sekitar 128 hektar dan 63 hektar untuk luasan populasi pisang ambon.
Saat ini luasan tanaman pisang tersebut, termasuk pisang agung, diperkirakan mengalami peningkatan sekitar 50 persen. Soalnya, di beberapa desa, seperti Burno, Kandang Tepus, Kandangan, dan Wonocepoko, dilakukan pembukaan areal hutan oleh Perum Perhutani.
Pengembangan Agrowisata Pisang Agung
Dengan komoditi andalan pisang agung yang begitu unik maka potensi untuk pengembangan agrowisata pisang agung tersebut sangat besar. Namun pengembangan agrowisata belum juga dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten Lumajang. Padahal pisang agung sebagai maskot Kabupaten Lumajang apabila dimanfaatkan sebagai agrowisata maka akan dapat lebih mempopulerkan nama Kabupaten Lumajang dengan ciri khasnya tersebut.
Nama Kota Batu lebih populer dengan komoditi apel daripada Lumajang. Hal ini karena pemerintah Kota Batu lebih gencar dalam mengadakan agrowisata komoditi apel tersebut sehingga dapat mengangkat citra Kota Batu seakan-akan sebagai penghasil apel paling lezat di Indonesia. Kabupaten Lumajang dengan komoditi pisang agung bisa seperti Kota Batu bahkan bisa lebih baik lagi. Buah apel panen pada waktu musimnya panen, artinya tidak setiap saat bisa dipanen. Hal ini beda dengan buah pisang yang tidak mengenal musim dalam panennya. Jadi kesempatan agrowisata dapat lebih luas dan panjang.
Dengan adanya agrowisata pisang agung diharapkan bisa meningkatkan kunjungan wisatawan yang penasaran dengan pisang agung ke Lumajang, sehingga Kabupaten Lumajang dapat lebih dikenal oleh khalayak banyak. Setiap wisatawan yang berkunjung ke lokasi perkebunan pisang agung dapat memetik sendiri pisang agung matang yang berwarna merah untuk dimakan langsung. Untuk yang masih berwarna hijau dapat diolah menjadi kuliner lezat seperti pisang goreng, kolak pisang, pisang bakar, kripik, dan lain-lain.
Selain dapat mengangkat nama Kabupaten Lumajang sebagai kota pisang agung, agrowisata juga dapat meningkatkan kesejahteraan para petani pisang agung. Perlu diketahui bahwa Kecamatan Pasru Jambe misalnya, sekitar 90,8 persen dari 1.225 keluarga atau sekitar 3.050 jiwa warganya adalah petani pisang agung. Populasi tanaman pisang agung di desa itu mencapai 612,5 hektar atau sekitar 1,53 juta pohon pisang, dengan asumsi rata-rata 2.500 pohon pisang per hektar.
Setiap keluarga yang membudidayakan pisang agung, dengan lahan kepemilikan rata- rata 0,5 hektar itu, setiap minggu bisa memetik 150 tandan. Tetapi, ada juga yang hanya 50-75 tandan per minggu karena usia tanam sudah cukup lama, yakni sekitar dua tahun.
Menurut penuturan salah satu petani pisang agung asal Desa Jambe Arum, mengaku memiliki kebun pisang seluas 2,5 hektar dengan jumlah tanaman sekitar 5.000 pohon. Keputusannya untuk ganti komoditas tanaman pertanian dari padi ke pisang agung tak lepas dari soal pendapatan.
Kalau bertanam padi dia hanya bisa memanen setiap tiga atau empat bulan sekali. Itu pun dengan penghasilan yang tidak bisa diharapkan karena harga gabah selalu anjlok saat panen. Berbeda dengan menanam pisang, setelah menunggu kurang dari setahun, hasilnya bisa dipetik dua kali dalam seminggu.
Pasar Sentral Pisang Agung
Bila hari pasar tiba, di sepanjang jalan setelah lewat satu kilometer dari Pasar Senduro akan terlihat "lautan" pisang. Tempat yang terletak di Desa Senduro, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, itu menjadi muara perdagangan pisang agung. Kerap disebut Pasar Pisang Senduro, ke sanalah pisang agung mengalir dari berbagai pelosok desa di Lumajang. Pasar Pisang Senduro hanyalah tempat di mana para pedagang pengepul menjual pisang yang dibelinya dari petani di daerah penghasil, yakni di sekitar Kecamatan Senduro dan Pasru Jambe. Alas untuk berdagang hanyalah aspal jalan dan tanah pelataran rumah orang.
Jika hari pasaran tiba-Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu-jalan selebar lebih kurang 10 meter itu hanya menyisakan separuhnya saja buat kendaraan bermotor yang lewat. Sisanya digunakan para pedagang untuk meletakkan pisang yang mereka beli dari petani. Tempat bermuaranya pisang dari petani di sekitar Senduro itu bisa ditemui di tepi jalan sepanjang 200 meter.
Pasar yang setiap hari mampu menjual 4.000 tandan pisang itu tidak hanya dipenuhi pisang dan para pedagang, tetapi juga kendaraan angkutan, seperti truk dan pick-up. Mobil angkut itu umumnya berasal dari luar Lumajang, seperti dari Probolinggo, Jember, dan bahkan Provinsi Bali. Ini berarti pisang jenis apa pun yang dihasilkan petani Lumajang tidak sebatas dikonsumsi oleh pasar lokal (Lumajang) saja, tetapi sudah melewati batas luar kabupaten dan provinsi.
Munculnya Pasar Pisang Senduro jelas memberi dampak ekonomi bagi banyak orang, mulai dari pedagang, para buruh angkut, sampai warung makan dan minum. Menurut penuturan salah seorang pedagang pisang agung yang ditemui di Pasar Pisang Senduro, rata-rata setiap harinya dia mampu menjual 20 tandan pisang agung dengan harga bervariasi Rp 8.000, Rp 10.000, sampai Rp 20.000 per tandan, tergantung kualitasnya. Pisang agung yang buahnya kurus dan warnanya tidak hijau biasanya dihargai murah. Selain pengaruh kualitas, tinggi rendahnya harga juga tergantung pada permintaan dan ketersediaan pisang.
Bagi para wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Lumajang akan tidak lengkap rasanya jika tidak membeli oleh-oleh khas Lumajang yaitu pisang agung. Untuk itu telah tersedia pasar sentral pisang agung tersebut di Kecamatan Senduro seperti yang dideskripsikan di atas.
Festival Pisang Agung
Untuk lebih menguatkan citra sebagai satu-satunya Kabupaten penghasil pisang agung di Indonesia, maka ada baiknya bila diadakan festival pisang agung dalam momen-momen tertentu, misalnya saja pada hari jadi Kabupaten Lumajang 15 Desember.
Dalam festival tersebut disuguhkan aneka kreasi olahan dari pisang agung. Selain untuk memeriahkan hari jadi Kabupaten Lumajang, festival ini juga menarik kunjungan wisatawan ke Kabupaten Lumajang.
Sebagai tambahan sensasi, dapat juga diadakan adu pemecahan rekor seperti rekor pisang agung terbesar. Kegiatan ini akan menambah daya kreatifitas petani pisang agung dan menambah nilai tambah pisang agung itu sendiri. Selain itu tentunya akan makin menarik perhatian wisatawan yang akan berkunjung ke Kabupaten Lumajang.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kabupaten Lumajang dengan berbagai macam potensi pariwisatanya ternyata kurang begitu familiar di telinga masyarakat Indonesia apalagi masyarakat dunia. Dalam hal ini kurangnya promosi pariwisata menjadi masalah utamanya. Oleh karena itu perlu diusahakan lagi promosi pariwisata Lumajang yang lebih gencar agar potensi pariwisata yang begitu banyak di Kabupaten Lumajang tidak menjadi sia-sia.
Dalam rangka mewujudkan citra Lumajang yang lebih dikenal maka usaha pengoptimalan potensi pariwisata harus dilakukan di semua sektor pariwisata dan oleh seluruh pihak yang terlibat didalamnya termasuk masyarakat Lumajang. Potensi pariwisata di Kabupaten Lumajang antara lain wisata alam; berupa pantai, gunung, danau kawah, goa, air terjun, serta pemandian alam. Ada juga agrowisata dengan komoditi andalan adalah pisang agung. Namun agrowisata di Kabupaten Lumajang harus dikembangkan lagi karena masih ketinggalan jauh misalnya dengan Kota Batu yang terkenal dengan buah apel.
Usaha untuk memperkenalkan Kabupaten Lumajang pada masyarakat wisatawan bisa dilakukan melalui agrowisata. Salah satunya adalah dengan komoditi andalan pisang agung yang merupakan varietas pisang asli Lumajang. Ukuran rata-rata pisang agung adalah 25 sampai 40 cm dan dalam satu tandan pisang berisi 5, 10, atau 15 biji. Buah pisang tidak mengenal musim, maksudnya pisang dapat dipanen tiap minggu jadi kesempatan pengembangan agrowisata ini lebih besar.
Saran
Agar usaha mempopulerkan Kabupaten Lumajang melalui agrowisata pisang agung dapat tercapai maka pemerintah Kabupaten Lumajang seharusnya harus membuat promosi agrowisata yang menarik. Paling tidak seperti yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya. Dengan partisipasi dari berbagai pihak yang terkait baik dari pemerintah dan masyarakat diharapkan nantinya pariwisata di Lumajang dapat berkembang lebih baik dan maju seperti kota lainnya.

DAFTAR RUJUKAN

Kripik Pisang Pak TANI. 2007. Kripik Pisang Agung Pak TANI, (Online), (http://pisangpaktani.blogspot.com/2007/10/kripik-pisang-agung-pak-tani.html, diakses 13 April 2009).
Lia. 2005. Pasar Pisang Senduro, "Pasar Sentral" Pisang Agung, (Online), (http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0503/24/ekora/1541940.htm, diakses 13 April 2009).
Liliasari, Agustina. 2005. Pisang Agung dari Lumajang, (Online), (http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0503/24/ekora/1541938.htm, diakses 13 April 2009).
Wikimedia Foundation, Inc. 2008. Lumajang, (Online), (http://en.wikipedia.org/wiki/Lumajang, diakses 13 April 2009).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar