Kamis, 16 Mei 2013

KESALAHAN DAN KOREKSI HASIL PENGUKURAN

Di dalam suatu pengukuran, hampir tidak ada satu metode ataupun alat yang dapat memberikan hasil yang pasti benar. Artinya, setiap pengukuran selalu ada kesalahannya. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana agar besar kesalahan dapat diterima. Nah, oleh karena itulah diperlukan koreksi untuk memperkecil kesalahan tersebut. Kesalahan dalam suatu pengukuran dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu:

1. Kesalahan Alami (Natural Error)
Kesalahan seperti ini bisa terjadi karena pengaruh gangguan alami seperti angin, suhu yang tinggi, serta gaya berat.
2. Kesalahan Alat (Instrumental Error)
Kesalahan ini terjadi antara lain karena perbedaan panjang alat dari dua alat ukur dengan seri atau buatan pabrik yang berbeda.
3. Kesalahan Petugas Pengukur
Kesalahan ini bisa terjadi karena petugas kurang cermat dalam memasang dan membaca alat.
Adanya kesalahan seperti yang bersumber dari ketiga sumber di atas dapat menyebabkan terjadinya kesalahan merambat maupun kesalahan kumulatif yang mungkin masih bisa dikoreksi. Ada juga yang tidak bisa dikoreksi. Beberapa kesalahan tersebut bisa dikoreksi dengan langkah-langkah berikut.
1. Kesalahan Panjang Alat Ukur
Kesadaran ini terjadi akibat alat ukur yang berbeda dengan alat ukur standar. Akibatnya, kesalahan yang timbul bersifat merambat dalam suatu pengukuran juga perhitungannya. Untuk menghilangkan kesalahan tersebut, panjang alat perlu dikoreksi dengan rumus berikut.

Misalnya panjang suatu pita ukur = 50 m, sedangkan diketahui ukuran standar panjang pita ukur = 50,02 m. Sehingga factor koreksi C1 = (50,02 –50)/50 = 0,0004 m. Jadi, jarak antara dua titik diukur dengan pita ukur sebesar = 225 m, maka jarak sebenarnya = 225 + 0,0004 (225) = 225,09 m.
2. Alat Ukur yang Tidak Horizontal
Pada saat pengukuran jarak, sering jarak yang diukur cukup jauh, hingga alat ukur tidak cukup untuk mengukurnya. Pengukuran pun dilakukan secara bertahap. Akibatnya, kesalahan yang bersifat merambat bisa terjadi, yaitu jarak yang terukur lebih panjang dari jarak sebenarnya. Kesalahan seperti ini bisa diperkecil dengan menggunakan hand level atau waterpass.
3. Interpolasi Angka
Koreksi dengan cara ini dilakukan jika pengukuran menggunakan alat ukur dengan garis skala besar. Misalnya, tiap 50 cm ada satu garis skala. Guna memperkecil kesalahan ini, disarankan menggunakan alat ukur tambahan seperti penggaris dengan skala yang lebih terperinci khusus pada akhir pengukuran saja.
4. Kesalahan Menghitung
Pengukuran dalam pemetaan sering dilakukan secara bertahap menggunakan alat ukur sederhana (rol meter atau kayu ukur). Kondisi ini memungkinkan petugas lupa sudah berapa kali alat ukurnya digunakan. Nah, kesalahan semacam ini termasuk kesalahan yang bersifat eksidental, artinya jika kesalahan seperti ini terjadi, maka harus dilakukan pengukuran ulang. Upaya yang bisa dilakukan untuk menghindari atau mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan ini dapat dilakukan dengan memberi tanda yang berbeda pada sepasang alat ukur yang digunakan.
5. Koreksi Sudut
Kesalahan dalam pengukuran sudut dapat terjadi karena kekurangtepatan dalam membidik arah yang benar dan ketidaktelitian alat. Kesalahan bisa dideteksi apabila selisih pengukuran sudut dating dan sudut pulang sebesar 180°.
Contoh:
Sudut datang (X ke Y) = 106°
Sudut pulang (Y ke X) = 289°
Selisih = 289° – 106° = 183°, lebih 3° dari 180°.
Kelebihan 3° dibagi 2 menjadi 1°30'. Koreksi dilakukan dengan menambah 1°30' pada sudut datang dan mengurangi 1°30' untuk sudut pulang.


Sumber: ssbelajar.blogspot.com

PENGUKURAN SUDUT ARAH

Jika ditanya tentang letak sekolahmu, apa jawaban yang kamu berikan? Boleh jadi kamu menjawab bahwa letak sekolahmu di sebelah utara Kantor X, atau di sebelah barat Jalan Y, dan seterusnya. Mungkin benar, tetapi lebih sering salah karena bisa jadi sebenarnya sekolahmu berada di sebelah utara agak ke barat dari Kantor X dan tidak persis berada di sebelah barat Jalan Y.

Untuk mengetahui arah sebenarnya, kamu memerlukan kompas. Kompas berfungsi sebagai penunjuk arah dan sudut. Cermati gambar 2.8! Berapakah besar sudut pada berbagai arah yang ditunjukkan oleh kompas tersebut?

Arah utara mempunyai sudut 0°. Jika pengukuran diawali dari arah utara, arah selatan mempunyai sudut 180°. Pernyataan arah yang demikian disebut sebagai pernyataan sudut arah dengan Azimuth. Dalam ilmu ukur tanah atau Handasah, dikenal dua cara untuk menyatakan besarnya sudut arah, yaitu Bearing dan Azimuth.
Bagaimanakah perbedaan antara keduanya? Lihat pernyataan sudut arah pada gambar 2.9! Menurutmu, berapakah besar sudut arah Uc? Ya, mungkin kamu akan menjawab bahwa besar sudut arah tersebut adalah 135° atau S 45° T (Selatan 45° Timur). Kedua bentuk pernyataan tersebut tidak salah, pernyataan sudut arah 135° merupakan pernyataan dalam Bentuk Azimuth, sedangkan pernyataan S 45° T merupakan pernyataan dalam bentuk Bearing. Perhatikan gambar 2.10, manakah gambar yang merupakan pernyataan sudut dengan Azimuth, dan mana yang berupa pernyataan Bearing.
Kamu telah mampu membedakan kedua pernyataan sudut arah tersebut. Berikan kesimpulanmu mengenai perbedaan kedua hal tersebut, jangan lupa diskusikan dengan guru dan teman-temanmu. Pernyataan Bearing, merupakan sudut arah yang diukur dari utara atau selatan magnet Bumi ke titik lain searah atau berlawanan arah jarum jam dengan sudut maksimum 90°. Untuk menunjukkan awal dan arah pengukuran, di depan angka harus ditulis S (dari selatan) atau U (utara) serta di belakang angka diikuti huruf T (timur) atau B (barat).
Pernyataan Azimuth, merupakan besarnya sudut arah yang diukur dari utara magnet Bumi ke titik yang lain searah putaran jarum jam. Dengan demikian, pengukuran dengan metode Azimuth mempunyai kisaran 0°–360°.
Jika kamu akan membuat peta tanpa pengukuran langsung, kamu memerlukan peta dasar. Kamu pernah mempelajari berbagai jenis peta termasuk peta dasar. Peta umum dapat disebut juga sebagai peta dasar. Nah, dari peta-peta tersebut dapat dibuat menjadi peta tematik. Apakah perbedaan dari peta-peta tersebut?
Peta umum merupakan peta yang memuat kenampakan secara umum, baik kenampakan asli maupun buatan. Contoh-contoh peta umum antara lain peta topografi, peta administrasi, dan sebagainya. Apabila dari peta umum tersebut kamu buat lagi menjadi peta dengan tema tertentu, maka peta umum tersebut dapat disebut sebagai peta dasar. Langkah yang biasa dilakukan dalam penggunaan peta dasar adalah memperbesar atau memperkecil peta. Nah, hal ini pernah kamu lakukan pada waktu SMP, menggunakan metode grid. Pembesaran dan pengecilan peta dapat juga kamu lakukan dengan fotokopi atau dengan alat pantograf.
Adapun peta dengan tema tertentu yang dibuat berdasarkan peta dasar, dapat disebut sebagai peta tematik. Ada banyak sekali contohcontoh peta tematik, seperti peta geologi yang menggambarkan kondisi kulit Bumi maupun kondisi di dalam Bumi. Pada peta geologi terdapat informasi mengenai jalur-jalur gunung api, kondisi perlapisan batuan, garis-garis patahan kulit Bumi, dan sebagainya.
Contoh peta tematik yang lain seperti peta persebaran penduduk, peta iklim, peta tanah, peta pariwisata, dan masih banyak lagi. Informasi yang ada pada peta tematik sangat mendukung tentang tema apa yang dipetakan. Seperti peta iklim sering disertai dengan informasi unsur-unsur iklim seperti suhu udara dan arah angin. Begitu juga dengan peta pariwisata yang memuat informasi persebaran objek wisata juga fasilitas pelengkapnya, seperti hotel, bandara, stasiun, money changer, dan lain-lain. Berbagai macam kondisi di sekolahmu pun dapat disajikan dengan peta tematik. Tetapi yang harus kamu ingat dalam pembuatan peta adalah persyaratan bagaimana peta yang baik.
Syarat-syarat peta yang baik antara lain adanya kelengkapan komponen-komponen peta seperti judul, skala, legenda, penunjuk arah, simbol, proyeksi, gambar, koordinat peta, serta tahun pembuatan. Semakin lengkap komponen-komponen tersebut pada suatu peta, akan sangat membantu dalam menggali informasi dari peta. Namun, dalam pembuatan peta kamu juga harus memerhatikan penggunaan komponen dan komposisi peta. Hal itu akan kita bahas nanti.


Sumber: ssbelajar.blogspot.com

PENGUKURAN JARAK PADA PETA

Berapakah luas halaman sekolahmu? Untuk mengetahuinya tentu kamu harus mengetahui panjang dan lebarnya terlebih dahulu. Cobalah melakukan pengukuran secara berkelompok. Kamu cukup memerlukan meteran gulung dan tongkat sebagai penanda untuk melakukan kegiatan ini.
Apabila jarak antara dua titik yang akan diukur lebih panjang dari alat ukurnya, maka ada dua tahapan, yaitu pelurusan pembanjaran dan pengukuran. Pengukuran dapat dilakukan setelah pembanjaran dilakukan.

1. Pembanjaran
Dalam pembanjaran paling tidak diperlukan sedikitnya empat buah yalon dan beberapa buah patok. Yalon dapat dibuat dari kayu ataupun logam dengan ukuran panjang 2–3 meter yang dicat merah berselang putih atau putih berselang hitam. Pembanjaran dilakukan oleh dua orang, seorang membidik, sementara itu satu orang lagi menancapkan yalon sesuai dengan komando si pembidik. Agar kamu lebih jelas, perhatikan gambar berikut.
Pada saat pembanjaran dilakukan, sering terjadi beberapa hambatan seperti adanya bangunan yang menghalangi pengukuran, seperti rumah dan lain-lain. Agar kamu lebih jelas, perhatikan contoh gambar berikut.
Guna mengukur garis AB yang terhalang rintangan, dilakukan pengukuran secara bertahap. Untuk membuat garis lurus AB diperlukan garis pertolongan XY yang sejajar. Selanjutnya, ditentukan titik P dan Q di antara XY dengan syarat sudut AXP = sudut BYQ = 90°. Pembuatan sudut siku-siku ini dilakukan dengan cara memperpanjang garis AX dan BY. Dari titik X dan Y masing-masing ditentukan dua titik yang sama panjang ke arah kanan dan kiri. Dari kedua titik ini pula dibuat dua buah busur yang berpotongan di titik P dan Q. Apabila XPQ dan PQY lurus, berarti posisi titik X dan Y sudah benar.
Hambatan lain dapat ditemukan ketika pembanjaran dilakukan, yaitu kondisi lapangan yang bergelombang. Seperti berbatasan dengan tebing yang curam atau dengan dua tembok yang tinggi. Dalam kondisi seperti ini tidak mungkin pembidik membidik di balik yalon yang ditancapkan pada batas areal yang diukur. Bagaimana melakukannya? Ya, pekerjaan ini dapat dilakukan secara bertahap. Agar kamu mengetahui lebih jelas bagaimana pembelajaran dilakukan, perhatikan gambar berikut dan penjelasannya.

Tahap awal dilakukan dengan menancapkan yalon di atas titik A dan B. Kemudian menancapkan dua buah yalon lain sebagai yalon bantu (P dan Q) dan yalon gerak (P1, P2, dan Q1, Q2). Pekerjaan bisa dimulai dengan menancapkan yalon Q di antara AB. Dalam menancapkan yalon Q petugas harus dapat melihat dengan jelas yalon A. Petugas membidik dari belakang yalon Q ke arah yalon A, sementara petugas yang lain menancapkan yalon B di antara dan segaris dengan AQ (sesuai dengan perintah si pembidik). Selanjutnya, petugas di titik P membidik ke arah titik B dan mengamati apakah yalon Q sudah satu garis lurus dengan PB. Jika
belum, petugas lain harus memindahkan yalon Q ke posisi yang lurus dengan garis PQ sesuai dengan perintah pembidik. Langkah ini diulangi lagi hingga diperoleh hasil PQB satu garis lurus, demikian juga QPA juga satu garis lurus. Keadaan ini menunjukkan bahwa APQB sudah terletak pada satu garis lurus. Jika jarak AP, PQ, dan QB tidak terjangkau oleh alat ukur yang ada, maka perlu dilakukan pembanjaran lagi.
2. Pengukuran
Pengukuran dengan peralatan canggih kini banyak dilakukan. Namun demikian, hal tersebut tidak langsung membuat peralatan kuno tidak difungsikan lagi. Dengan beberapa pertimbangan, peralatan kuno ini masih digunakan, seperti areal yang sempit, datar, dan mudah karena lebih praktis dan efisien. Demi keakuratan peta, beberapa teknik pengukuran harus diterapkan.
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengukuran, yaitu:
a. Menentukan terlebih dahulu batas-batas areal yang akan diukur.
b. Pemilihan satu atau lebih garis ukur yang akan digunakan sebagai patokan pengukuran terhadap titik-titik yang lain. Garis ini akan memberikan kemudahan dalam pengukuran.
c. Letak garis ukur harus dekat dengan kenampakan-kenampakan yang akan diukur dan tidak menimbulkan offset yang panjang.
d. Membuat sketsa yang jelas sebelum melakukan. Hal ini akan membantu dan memudahkan pekerjaan.
Informasi di atas memberikan gambaran langkah-langkah teknis yang ditempuh sebelum melaksanakan pengukuran. Langkah-langkah teknis pengukuran bisa berbeda-beda tergantung bagaimana kondisi wilayah yang diukur, ada wilayah dengan bentuk teratur, ada pula wilayah dengan batas yang kompleks.
a. Wilayah dengan Batas yang Teratur dan Sederhana
Contoh pengukuran pada wilayah dengan batas yang teratur dan sederhana dapat kamu cermati pada gambar di bawah
.
Apabila wilayah yang akan diukur seperti pada gambar, maka langkah tepat yang diambil, yaitu dengan menarik garis AC. Dengan demikian, wilayah dibagi menjadi dua wilayah segitiga. Langkah pertama mengukur AC, selanjutnya mengukur jarak-jarak AD, CD, dan AB.
Setelah pengukuran, pekerjaan selanjutnya menggambarkan hasil pengukuran pada kertas. Penggambaran pada kertas dimulai dengan menentukan skala terlebih dahulu. Selanjutnya, penggambaran hasil pengukuran dimulai dari garis ukur AC. Kemudian dengan
menggunakan jangka digambar busur-busur AD, CD, AB, dan BC. Perpotongan antara busur AD dan CD merupakan titik D, sedang perpotongan antara busur AB dan BC merupakan letak titik B. Mudah bukan? Memang dalam penggambaran hasil pengukuran ini, kamu diminta menerapkan ilmu matematikamu.
b. Wilayah dengan Batas yang Tidak Teratur
Contoh pengukuran pada wilayah dengan batas yang tidak teratur seperti gambar di samping. Pada wilayah seperti ini dibutuhkan pengukuran yang lebih banyak, diperlukan beberapa garis ukur yang digunakan sebagai patokan pengukuran terhadap kenampakan batas areal. AB, BC, dan AC merupakan garis ukur yang digunakan. Untuk memperoleh ketelitian yang tinggi, pada batas wilayah yang tidak teratur (berlekuk) ditarik garis offset, yaitu garis yang tegak lurus terhadap garis ukur. Garis offset ini tidak boleh terlalu panjang agar ketelitian tetap terjaga.
garis offset yang harus diukur tergantung pada perbedaan bentuk batas wilayah dan tingkat ketelitian yang diinginkan. Penentuan offset yang akan diukur (a1, a2, a3, dan seterusnya) berdasarkan perubahan lebar yang mempunyai perbedaan tajam. Nah, apa yang kamu lakukan itu tahap awal dari proses pembuatan peta.
Bagaimana menggambarkan halaman sekolahmu pada selembar kertas? Tentu saja kamu tidak bisa menggambarkan dengan ukuran sebenarnya. Oleh karena itu, kamu harus menentukan skalanya terlebih dahulu. Sebagai contoh, panjang halaman sekolahmu 47 meter dan lebarnya 26 meter. Kamu dapat menentukan skala 1 : 200.
Dengan skala itu, berapa panjang dan lebar halaman sekolah yang harus kamu gambar di kertasmu? Perbandingan hasil pengukuran dengan skala merupakan hal yang penting dalam pembuatan peta. Oleh karena itu harus ada keterpaduan antara skala peta yang akan disajikan dengan media yang digunakan untuk menggambarkannya.
 
 

PRINSIP PENGUKURAN DALAM PEMETAAN

Tentunya kamu pernah melakukan pengukuran, walaupun yang kamu lakukan merupakan pengukuran sederhana. Kamu pernah mengukur panjang dan lebar suatu bidang dengan penggaris bukan? Seperti itulah prinsip pengukuran untuk pemetaan, yaitu mengukur suatu bidang atau area di permukaan Bumi dengan alat ukur. Tentu saja tidak mungkin kamu mengukur bidang di permukaan Bumi hanya dengan penggaris. Menurutmu, peralatan apa sajakah yang dapat digunakan untuk melakukan pengukuran di permukaan Bumi?
Pembuatan peta zaman dahulu menggunakan metode pengukuran langsung. Alat yang digunakan pada waktu itu adalah meteran untuk mengetahui jarak dan kompas untuk mengetahui arah. Metode ini masih dapat kita gunakan tetapi untuk wilayah yang sempit.

Jika wilayah yang akan dipetakan sangat luas, metode pengukuran langsung menjadi tidak efektif. Selain melelahkan, metode pengukuran langsung akan memakan waktu yang lama. Beruntunglah kini ada alat ukur yang disebut theodolit. Dengan alat ini, jarak dua titik dan sudut arahnya dapat diketahui dengan cepat. Kamu akan menggunakan alat ini jika kelak melanjutkan studi di Fakultas Geografi atau Teknik Geodesi.
Secara keseluruhan, pembuatan peta dengan pengukuran melalui beberapa tahap yang harus dilalui, yaitu:
1. Kerja Lapangan
Pada tahapan ini, kegiatan yang dilakukan meliputi observasi, pengukuran, serta pencatatan data dari pengukuran. Pada prinsipnya, kegiatan di tahap ini dapat dilakukan dengan alatalat mulai dari yang paling sederhana, seperti kayu ukur, rol meter, kompas, hingga alat-alat yang lebih canggih seperti penyipat datar, theodolit, dan sebagainya.
2. Pengelolaan Data Hasil Pengukuran
Pada tahap ini dilakukan penghitungan, pengolahan, dan koreksi data guna menentukan posisi (koordinat) setiap titik hasil pengukuran dari wilayah yang dipetakan. Pada tahap ini perlu dilakukan koreksi karena bisa saja terjadi kesalahan dalam pengukuran. Baik dari human error (kesalahan petugas pengukuran) maupun kesalahan yang bersumber dari alat.
3. Penyajian Peta
Pada tahap ini dilakukan pembuatan peta dengan menggambar data sesuai dengan hasil pengukuran jarak maupun posisinya dalam peta. Di dalam pemetaan, pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur sederhana disebut dengan istilah pengukuran secara langsung. Hasil pengukuran ini dapat diketahui pada saat itu juga. Dua unsur penting yang harus diukur di lapangan, yaitu jarak antara dua titik dan sudut arah. Bagaimana mengukur kedua unsur penting tersebut?


Sumber: ssbelajar.blogspot.com

PROYEKSI PETA

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa peta merupakan penggambaran objek di Bumi dengan sistem proyeksi dari bidang lengkung ke bidang datar. Nah, pada tahap ini diperlukan penggunaan proyeksi dengan tepat. Apa dan bagaimana proyeksi peta itu?


Proyeksi Peta


Bentuk Bumi bulat sedangkan peta berbentuk datar. Di sinilah sistem proyeksi diperlukan untuk memindahkan kenampakan di Bumi pada bidang datar. Secara sederhana proyeksi peta dapat diartikan sebagai cara pemindahan garis paralel dan meridian dari globe (bidang lengkung) ke bidang datar. Ini artinya proyeksi merupakan suatu sistem yang memberikan hubungan antara posisi titik-titik di Bumi dan di peta.

Coba kamu bayangkan jika Bumi yang berbentuk bola kemudian dibentangkan menjadi bidang datar. Pasti di beberapa posisi terkesan melengkung, inilah yang disebut distorsi atau kesalahan. Padahal di sisi lain peta bisa disebut ideal jika bisa menggambarkan luas, bentuk, arah, dan jarak dengan benar. Keempat persyaratan peta yang ideal sulit untuk dipenuhi. Upaya yang bisa dilakukan dengan mengurangi risiko kesalahan sekecil mungkin dengan memenuhi satu atau lebih persyaratan tersebut.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan langkahlangkah berikut.
1. Wilayah yang akan dipetakan dibagi menjadi bagian-bagian yang tidak begitu luas.
2. Memilih bidang proyeksi yang sesuai dengan posisi wilayah yang dipetakan, misalnya bidang datar, bidang kerucut, dan bidang silinder.

Nah, dalam memilih macam proyeksi, hal-hal yang dipertimbangkan, yaitu:
a. Bentuk, letak, dan luas daerah yang dipetakan.
b. Ciri-ciri tertentu atau ciri-ciri asli yang akan dipertahankan, seperti mempertahankan bentuk (conform), luas (equivalent), dan jarak (equidistant). Oleh karena sulit untuk memenuhi ketiga syarat sekaligus, maka dipilih syarat yang bisa terpenuhi dengan pemilihan proyeksi peta. Karena itu pulalah terdapat beragam tipe proyeksi peta dengan kelebihan dan kekurangan, sesuai dengan tujuan peta dan bagian muka Bumi yang digunakan.

Beberapa istilah sederhana dalam proyeksi:
1. Meridian dan meridian utama.
2. Paralel dan paralel nol atau ekuator.
3. Bujur (longitude-j), Bujur Barat (0°–180°BB) dan Bujur Timur (0°–180°BT).
4. Lintang (latitude-l), Lintang Utara (0°–90°LU), dan Lintang Selatan 0°–90°LS).

Mungkin penjelasan di depan membuatmu bingung? Jangan khawatir, agar kamu lebih memahami masalah proyeksi, cermati gambar-gambar berikut.




Pada gambar bagian A, kamu bisa memahami bagaimana perubahan bentuk bisa terjadi dari bidang lengkung (segi empat) pada globe berubah menjadi seperti bagian C di bidang datar. Perubahan ini mengakibatkan adanya distorsi di berbagai wilayah di permukaan Bumi. Bagaimana bentuk distorsinya? Coba bayangkan jeruk sebagai Bumi. Kupaslah kulit jeruk tersebut seperti gambar berikut.





Bagian manakah yang mengalami distorsi? Ya, bagian tengah atau lintang rendah (khatulistiwa dan sekitarnya) serta bagian kutub mengalami distorsi menjadi lebih besar. Bisa dikatakan semakin ke kutub semakin besar distorsinya. Melihat kenyataan ini maka jika kita akan memetakan wilayah khatulistiwa harus memilih proyeksi yang benar-benar sesuai. Begitu juga dengan wilayah kutub. Lalu proyeksi apa yang sesuai? Kenali dahulu beberapa tipe proyeksi.


1. Proyeksi Berdasarkan Bidang Proyeksi
Berdasarkan bidang proyeksi yang digunakan, proyeksi ini dibedakan menjadi:
a. Proyeksi Zenithal (Azimuthal)
Bidang proyeksi ini berupa bidang datar yang menyinggung bola pada kutub, ekuator atau di sembarang tempat. Oleh karena itu, proyeksi ini dibedakan menjadi:
1) Proyeksi azimuth normal, di mana bidang proyeksinya bersinggungan dengan kutub.
2) Proyeksi azimuth transversal, bidang proyeksinya tegak lurus dengan ekuator.
3) Proyeksi azimuth oblique, bidang proyeksinya menyinggung salah satu tempat antara kutub dan ekuator.



Sebelum menggunakan proyeksi ini kamu harus memahami benar cirinya, yaitu garis-garis bujur sebagai garis lurus yang berpusat pada kutub, garis lintang digambarkan dalam Bentuk lingkaran yang mengelilingi kutub, sudut yang dibentuk antara garis bujur sama besarnya pada peta, dan seluruh permukaan Bumi jika digambarkan dengan proyeksi ini akan berbentuk lingkaran. Nah, kamu dapat melihat hasil penggunaan proyeksi ini pada gambar di atas. Gambar tersebut merupakan proyeksi azimuth normal yang dianggap sebagai proyeksi yang cocok untuk memetakan daerah kutub. Penggambaran kutub dengan proyeksi ini dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

      1) Proyeksi Gnomonik
Pada proyeksi ini, titik pusat seolah berada di pusat lingkaran (digambarkan seperti sinar matahari yang bersumber di pusat lingkaran). Menggunakan proyeksi ini lingkaran paralel makin keluar makin mengalami pembesaran hingga wilayah ekuator.





      2) Proyeksi Azimuthal Stereografik
Pada proyeksi ini seolah-olah sumber arah sinar berasal dari arah kutub berlawanan dengan titik singgung proyeksi. Akibatnya jarak antarlingkaran paralel semakin membesar ke arah luar.






       3) Proyeksi Azimuthal Orthografik
Pada proyeksi ini seolah-olah sumber arah sinar matahari berasal dari titik jauh tidak terhingga. Akibatnya sinar proyeksi sejajar dengan sumbu Bumi. Jarak antarlingkaran akan makin mengecil apabila semakin jauh dari pusat.






b. Proyeksi Silinder (Cylindrical)
Proyeksi ini menggunakan silinder sebagai bidang proyeksinya dan menyinggung bola Bumi. Jika proyeksi ini menyinggung wilayah khatulistiwa, maka garis paralel merupakan garis horizontal dan garis meridian.



Beberapa keuntungan penggunaan proyeksi ini, yaitu dapat menggambarkan wilayah yang luas dan sesuai untuk menggambarkan wilayah khatulistiwa atau lintang rendah.

c. Proyeksi Kerucut
Dari namanya saja pasti kamu langsung tahu bahwa proyeksi ini berkaitan dengan bangun kerucut. Proyeksi ini memiliki parallel melingkar dengan meridian berbentuk jari-jari. Baris parallel berupa garis lingkaran, sedangkan garis bujur berupa jari-jari. Proyeksi ini paling tepat digunakan untuk memetakan daerah lintang 45° atau lintang tengah.



Secara garis besar, proyeksi ini dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1) Proyeksi Kerucut Normal atau Standar
Proyeksi ini menggunakan kerucut dengan garis singgung dengan bola Bumi terletak pada suatu paralel (paralel standar).
2) Proyeksi Kerucut Transversal
Pada proyeksi ini sumbu kerucut berada tegak lurus terhadap sumbu Bumi.
3) Proyeksi Kerucut Oblique (Miring)
Pada proyeksi ini sumbu kerucut membentuk garis miring terhadap sumbu Bumi.



Ketiga proyeksi berdasarkan bidang ini (azimuthal, kerucut dan silinder) termasuk kelompok proyeksi murni yang penggunaan dalam kehidupan sehari-hari sangat terbatas karena dirasa sulit. Selanjutnya, proyeksi berdasarkan bidang ini mengalami modifikasi hingga muncul proyeksi gubahan.


2. Proyeksi Modifikasi/Gubahan (Proyeksi Arbitrary)
Proyeksi ini lebih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang diperoleh melalui perhitungannya.

a. Proyeksi Bonne (Equal Area)
Proyeksi ini merupakan proyeksi yang baik untuk menggambarkan wilayah Asia yang letaknya di sekitar khatulistiwa. Proyeksi ini menggambarkan sudut dan jarak yang benar pada meridian tengah dan pada paralel standar, terdapat distorsi yang cukup besar apabila menjauhi meridian tengah.




Proyeksi Boone pertama kali dihitung oleh Ringober Boone pada pertengahan tahun 1700-an dan sesuai untuk memetakan negara-negara di lintang tengah seperti Amerika Serikat. Keseluruhan garis paralel terbagi merata. Skalanya benar untuk menggambarkan wilayah sepanjang meridian tengah.

b. Proyeksi Mollweide
Pada proyeksi ini, tiap bagian mempunyai ukuran yang sama luas hingga ke wilayah pinggir proyeksi. Semakin mendekati kutub, ukuran berubah semakin kecil.






c. Proyeksi Sinusoidal
Proyeksi ini lebih dikenal oleh orang-orang di wilayah Amerika Selatan, Australia, dan Afrika, karena sesuai untuk menggambar wilayah tersebut. Selain itu, proyeksi ini dapat juga digunakan untuk menggambarkan daerah yang kecil di belahan Bumi mana saja maupun daerah luas yang jauh dari khatulistiwa. Proyeksi ini menggambarkan sudut dan jarak yang tepat untuk wilayah meridian tengah. Sedangkan untuk wilayah khatulistiwa bisa digambarkan dengan luasan yang sesuai.




d. Proyeksi Mercator
Proyeksi ini melukiskan Bumi di bidang silinder yang sumbunya berimpit dengan bola Bumi, kemudian seolah-olah silindernya dibuka menjadi bidang datar.



Hasil proyeksi ini layak digunakan untuk memetakan wilayah dekat ekuator. Akan tetapi makin mendekati kutub, distorsi semakin besar. Selain karakteristik ini, masih ada ciri lain yang dimiliki proyeksi ini, yaitu:
1) Kutub-kutub hampir tidak dapat dipetakan karena terletak di posisi tidak terhingga.
2) Interval jarak antarmeridian sama.
3) Interval jarak antarparalel tidak sama, semakin mendekati kutub semakin lebar.
4) Menggunakan proyeksi ini, Bumi dibagi menjadi enam puluh zona. Tiap zona mempunyai lebar 6°. Zona nomor 1 dimulai dari daerah yang dibatasi oleh meridian 180°B dan 174°B, dilanjutkan ke arah timur sampai dengan zona enam puluh.

e. Proyeksi Homolografik (Goode)
Proyeksi ini merupakan proyeksi perbaikan kesalahan pada proyeksi Mollweide.


Proyeksi Goode pertama kali dihitung oleh John Paul Goode (1862–1932) dari Chicago. Semenjak itu mulai digunakan secara luas untuk peta global. Seperti pada gambar, peta ini dipotong menjadi beberapa bagian untuk mengurangi penyimpangan dan perentangan, terutama di wilayah samudra dan Antartika.

f. Proyeksi Gall
Ciri khas yang dimiliki proyeksi ini adalah bentuk yang berbeda pada wilayah lintang yang mendekati kutub.



3. Proyeksi Berdasarkan Sifat Asli yang Dipertahankan
Ditinjau dari klasifikasi ini, proyeksi dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. Proyeksi Equivalent
Proyeksi ini mempertahankan luas daerah. Artinya luas daerah sebenarnya sama dengan luas daerah pada peta setelah dikalikan skala.
b. Proyeksi Konform
Proyeksi ini mempertahankan sudut-sudut sesuai dengan kenampakan di permukaan Bumi. Artinya skala yang dipertahankan adalah ketepatan sudut.
c. Proyeksi Equidistant
Proyeksi ini mempertahankan jarak sehingga jarak di atas muka Bumi sama dengan jarak di atas peta apabila dikalikan skala.


4. Proyeksi Berdasarkan Kedudukan Sumbu Simetri
Berdasarkan pembagian ini, proyeksi dibedakan menjadi:
a. Proyeksi Normal
Pada proyeksi ini, sumbu simetri berimpit dengan sumbu Bumi.
b. Proyeksi Miring
Pada proyeksi ini, sumbu simetri membentuk sudut miring dengan sumbu Bumi.
c. Proyeksi Transversal
Sumbu simetri pada proyeksi ini tegak lurus sumbu Bumi atau terletak pada bidang ekuator (disebut juga proyeksi equatorial).



Nah, itulah beberapa jenis proyeksi yang digunakan dalam pemetaan. Catatan penting yang harus kamu ingat, yaitu bahwaproyeksi peta selalu mempunyai distorsi (berubah dari bentuk aslinya). Beberapa proyeksi mungkin akan mengubah bentuk arah menjadi tidak tetap. Beberapa proyeksi lainnya mengubah ukuran, tetapi mempertahankan bentuk dan arah dengan tepat.


Sumber: ssbelajar.blogspot.com

PERSEBARAN HEWAN DAN TUMBUHAN

A.    Persebaran Tumbuhan dan Hewan di Permukaan Bumi
1.      Persebaran Tumbuhan di Permukaan Bumi 
           Jenis flora berdasarkan iklim dan ketinggian tempat di muka bumi ada empat macam yaitu sebagai berikut. 
      a.      Hutan hujan tropik
1)      Hutan hujan tanah rawa, terdiri atas berikut ini.
a)      Hutan rawa air tawar, terletak pada ketinggian kurang dari 100 m di atas permukaan air laut, suhunya 260 C.
b)      Hutan rawa gambut, terletak pada ketinggian 100 m di atas permukaan air laut, suhunya 260 C.
c)      Hutan mangrove/bakau, terletak pada ketinggian 5 m di atas permukaan air laut, suhunya 260 C.
2)      Hutan hujan tanah kering
a)      Hutan pantai, ketinggian 5 m, suhunya 260 C.
b)      Hutan penuh, ketinggian 700 – 1.000 m, suhunya 230 C - 190 C.
c)      Hutan dipterocarpaceae, ketinggian 1.000 m, suhunya 260 C - 210 C.
d)     Hutan nondipterocarpaceae, ketinggian 1.000 m, suhunya 260 C - 210 C.
e)      Hutan belukar, ketinggian 1.000 m, suhunya 260 C - 210 C.
b.      Hutan musim
1)      Hutan musim gugur daun, ketinggian 800 m di atas permukaan air laut, suhunya 200 C.
2)      Hutan musim selalu hujan, ketinggian 1.200 m, suhunya 220 C.
c.       Hutan savanna/sabana
1)      Hutan sabana pohon dan palma, ketinggian kurang dari 900 m suhunya               200 C.
2)      Hutan sabana causarina, ketinggian 1.600 m – 2.400 m, suhunya 190 C.
d.      Stepa/padang rumput
a)      Stepa iklim kering, ketinggian kurang dari 900 m, suhunya 220 C.
b)      Stepa iklim basah, terdiri atas berikut ini.
1)      Rawa rumput, ketinggian kurang dari 1.000 m, suhunya 260 C.
2)      Stepa tanah rendah, ketinggian kurang dari 1.000 m, suhunya 260 C.
3)      Stepa pegunungan, ketinggian 1.500 m - 2.400 m, suhunya 180 C.
4)      Stepa berawa gunung, ketinggian 1.500 m – 2.400 m, suhunya 100 C.
5)      Stepa Alpin, ketinggian 4.000 m – 4.500 m, suhunya kurang dari 100 C.
6)  Komunitas rumput dan tundra/lumut, ketinggian lebih dari 4.500 m, suhunya 100 C.

2.      Persebaran Hewan di Permukaan Bumi
Wilayah-wilayah zoogeografis utama dibuat oleh Wallace pada tahun 1876 seperti berikut.
a.      Wilayah paleatik
1)      Mencakup Eropa dan Asia bagian utara.
2)      Memiliki 28 famili kondata dan yang 9 tersebar di mana-mana.
3)   Faunanya adalah beberapa reptile, domba, kambing, bison, ikan salmon, dan ikan forel.
b.      Wilayah neartik
1)      Meliputi Amerika Utara dan Grenland
2)   Banyak kesamaan dengan paleatik, keduanya pernah bergabung pada zaman tersier dan plestosen. Misalnya, fauna jenis bison, ikan salmon, dan ikan forel.
3)   Faunanya memiliki beberapa bentuk yang khas, musang berkantung, tikus berkantung, reptile, kalkun liar, jenis beruang, bebek, dan angsa.
c.       Wilayah oriental
1)      Meliputi wilayah Australia dan Asia Tenggara.
2)   Mempunyai ciri bentuk-bentuk tropik yang ada di daerah Semenanjung dan pulau-pulau.
Kedudukan tropik memberinya pertalian dengan wilayah Ethiopia dan Himalaya, membentuk batas tajam yang melindungi banyak daerah di utaranya.
3)      Fauna meliputi satu spesies gajah, badak, beberapa spesies rusa, dan antelope, burung kus-kus, burung enggang, harimau, aneka ragam kadal, serta ular. Tiga spesies tikus, kesturi, gibbon, orang utan, tapir, dan kera.
d.      Wilayah Ethiopia
1) Meliputi sebagai besar wilayah tropik, Afrika bagian selatan Sahara, dan Arabia Selatan.
2)  Memiliki fauna yang beraneka di antara semua kerajaan, walaupun tidak memiliki tikus mondok, berang-berang, beruang dan rusa.
3)  Banyak kesamaan dengan wilayah oriental, misalnya antelope, tapir, badak, kera, dan burung enggang.
4)      Kuda nilardvarik, burung unta, dan kelompok penguggis serta pemakan serangga.
e.       Wilayah Australis
1)      Memiliki fauna di Australia.
2)      Memiliki beberapa mamalia berplasenta dan khas.
3)   Selandia Baru memiliki sedikit fauna, yaitu kelelawar dan burung berjalan, reptile-reptil seperti tokek dan sphenodon.
4)  Fauna lainnya adalah binatang berkantung, kiwi, kasuari, dan emu (sejenis burung unta).
f.        Wilayah neotropik
1)      Meliputi Amerika Selatan adalah wilayah tropik dan memiliki famili hewan mamalia eksklusif dan jumlah besar.
2)      Setengah dari 32 famili hewan berkantung.
3)      Fauna lainnya yaitu kera, burung dan pengunggis yang khas, armadillo dan sloth (sejenis kukang), beruang berbintik, rusa dan tapir.
g.      Wilayah Antartika
1)      Sebagai wilayah kelanjutan.
2)      Memiliki fauna yang termiskin.
h.      Wilayah Oceanian
Penyebaran di samudra membentuk perbedaan nyata dengan yang ada di daratan.

3.      Penyebaran Komunitas Flora di Dunia
Penyebaran organisme tumbuhan di dunia dapat dibagi menjadi enam macam yang utama. Keenam daerah ini dibedakan berdasarkan perubahan naik garis lintang (penurunan temperatur) dalam pembagian mintakat temperatur. Enam macam komunitas tumbuhan tersebut adalah sebagai berikut.
a.      Padang rumput (stepa)
Daerah padang rumput terbentang dari daerah tropika sampai ke daerah subtropika. Curah hujan di daerah padang rumput antara 200 mm – 500 mm/tahun. Pada daerah tertentu curah hujan bisa mencapai 1.000 mm/tahun, akan tetapi turunnya hujan tidak teratur. Hujan yang tidak teratur mengakibatkan tumbuhan sulit untuk mengambil air. Tumbuhan yang bisa menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan seperti ini adalah rumput. Daerah padang rumput yang relatif basah adalah di Amerika Serikat, rumputnya bisa mencapai tiga meter, misalnya rumput bluesem, dan Indian grasses. Daerah padang rumput yang kering mempunyai rumput yang pendek, contohnya rumput buffalo grasses dan rumput grama.
Padang rumput terdiri dari beberapa macam
1)        Tundra, terdapat di daerah bersuhu dingin dan curah hujan rendah. Kondisi ini mengakibatkan jenis tumbuhan yang ada adalah rumput-rumput kerdil.
2)        Praire, terdapat di daerah dengan curah hujan yang berimbang dengan musim panas. Rumput di praire tinggi disbanding rumput tundra.
3)        Steppa, terdapat di daerah dengan curah hujan tinggi. Daerah stepa umumnya terdiri dari rumput-rumput pendek dan diselingi oleh semak belukar.
Tumbuhan yang bisa tahan hidup di daerah savanna adalah jenis tumbuhan yang tahan terhadap kelembapan rendah. Biasanya berupa rumput-rumput tinggi diselingi semak belukar dan pohon-pohon tinggi. Savanna terdiri atas berikut ini.
1)        Belukar tropik, tumbuh berjenis-jenis semak, pada musim hujan tumbuh dengan mudah.
2)        Hutan savanna, tumbuh dengan system menjalar dan memenuhi tanah, pohon tinggi jarang.
3)        Savanna, padang rumput yang diselingi oleh pohon-pohon tinggi.
4)        Semi arid, daerah yang jarang hujan sehingga ditumbuhi oleh semak-semak yang tahan panas.
b.      Gurun/padang pasir
Daerah padang pasir banyak terdapat di daerah tropika dan perbatasan dengan padang rumput. Daerah padang pasir biasanya sangat gersang. Curah hujan sangat rendah, yaitu sekitar 250 mm/tahun atau kurang. Hujan lebat jarang terjadi dan tidak teratur. Pancaran matahari sangat terik dan pegunungan tinggi, sehingga terjadi perbedaan suhu yang sangat menyolok antara siang dan malam hari. Suhu pada siang hari sangat tinggi dan pada malam hari sangat rendah sekali. Tumbuhan yang bisa hidup di daerah gurun adalah tumbuhan menahun, yang bisa menyesuaikan terhadap kekurangan air dan penguapan yang cepat, maka biasanya berdaun kecil seperti duri atau tidak berdaun dan berakar panjang, sehingga dapat mengambil air dari tempat yang dalam dan dapat menyimpan air dalam jaringan spon.
Apabila hujan turun, tumbuhan di gurun segera tumbuh, berbunga, dan berbuah dengan cepat. Contoh tumbuhan yang hidup di gurun adalah kaktus dan kurma.
c.       Tundra (padang lumut)
Daerah padang lumut hanya terdapat di kutub utara. Daerah ini memiliki musim dingin yang panjang serta gelap dan musim panas yang panjang serta terang terus-menerus. Daerah tundra di kutub bisa mengalami gelap berbulan-bulan, karena matahari hanya mencapai 23½0 LU/LS. Di daerah ini tidak ada tumbuhan tinggi, pohonnya pendek seperti semak. Tumbuhan yang banyak hidup di daerah tundra adalah lumut, terutama sphagnum dan lichens (lumut kerak). Tumbuhan semusim di daerah tundra biasanya berbunga dengan warna yang menyolok, dengan masa pertumbuhan yang sangat pendek, sehingga pada musim pertumbuhan pemandangannya sangat indah.
d.      Hutan basah
Daerah hutan basah tropika terdapat berates-ratus spesies tumbuhan. Sepanjang tahun hutan basah tropika cukup mendapat air dan keadaan alamnya memungkinkan terjadinya pertumbuhan yang lama. Pohon-pohon utama memiliki ketinggian antara 20 – 40 meter dengan cabang-cabangnya berdaun lebat, sehingga membentuk suatu tudung yang mengakibatkan hutan menjadi gelap. Dasar hutan selalu gelap, air hujan sulit mencapai dasar hutan secara langsung, tetapi kelembapan tinggi dan suhu sepanjang hari hampir tetap. Pada hutan basah tropika selain pepohonan yang tinggi terdapat tumbuhan khas, yaitu liana dan epifit. Contoh liana: rotan, dan epifit adalah anggrek.
e.       Hutan gugur
Hutan gugur terdapat banyak di daerah yang beriklim sedang, hutan gugur ini disebabkan oleh hal berikut ini.
1)      Curah hujan merata sepanjang tahun, yaitu antara 750 mm – 1.000 mm/tahun, serta adanya musim dingin dan musim panas. Dengan adanya musim dingin dan panas, tumbuhan di daerah ini mengadakan penyesuaian, yaitu dengan menggugurkan daunnya menjelang musim dingin.
2)      Musim yang mendahului musim dingin disebut musim gugur. Sejak musim gugur sampai musim semi, tumbuhan yang menahun pertumbuhannya terhenti. Tumbuhan semusim, mati pada musim dingin. Yang tinggal hanya bijinya. Tumbuhan yang tahan dingin dapat berkecambah menjelang musim panas.
Pada hutan gugur pohon-pohonnya tidak terlalu rapat dan jumlah spesiesnya sedikit, yaitu antara 10 – 20 spesies.
f.        Taiga (hutan pinus)
Taiga adalah hutan pohon pinus yang daunnya seperti jarum. Jenis tumbuhan misalnya conifer, terutama pohon spruce (picea), alder (alnus), birch (betula), dan juniper (juniperus). Daerah taiga merupakan bioma yang hanya terdiri dari satu spesies pohon. Taiga banyak terdapat di belahan bumi bagian utara.

4.      Penyebaran Komunitas Fauna di Dunia
Keadaan fauna di tiap-tiap daerah sangat tergantung pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat diberikan daerah itu untuk member makanan. Secara langsung atau tidak iklim sangat berpengaruh pada penyebaran fauna. Akibat pengaruh iklim, maka terdapat fauna pegunungan, fauna dataran rendah, fauna padang rumput, fauna hutan tropis, dan sebagainya.
a.      Fauna di daerah padang rumput
Di daerah padang rumput terdapat banyak spesies hewan. Hewan pemakan rumput yang besar-besar, misalnya zebra (Afrika), kanguru (Australia), dan bison (Amerika) merupakan konsumen primer di padang rumput. Predator yang terdapat di padang rumput seperti singa dan anjing liar memangsa herbivor besar, sedangkan ular makan herbivor kecil. Selain vertebrata dan herbivor, di padang rumput banyak terdapat insekta, misalnya belalang.
b.      Fauna di daerah gurun
Hewan di daerah gurun beradaptasi terhadap lingkungan gersang. Mamalia yang besar jarang dapat hidup di daerah gurun, karena hewan besar sukar menyesuaikan diri terhadap suhu tinggi dan ketiadaan air. Ular, kadal, dan rodentia banyak terdapat di daerah gurun. Sedangkan hewan kecil-kecil di gurun hidup dalam lubang dan keluar mencari mangsa pada pagi hari atau malam hari.
c.       Fauna di daerah tundra
Beberapa hewan yang hidup di daerah tundra ada yang hidup menetap dan ada pula yang hanya datang di daerah ini pada musim panas saja untuk bertelur. Hewan yang hidup menetap, baik bangsa burung atau mamalia, mempunyai bulu yang tebal, yang melindungi terhadap suhu yang rendah. Untuk melindungi terhadap suhu yang rendah, hewan-hewan mengalami perubahan warna menjadi putih dalam musim dingin. Warna putih tersebut merupakan warna pelindung di atas salju dan mengurangi kehilangan panas oleh radiasi matahari. Herbivora yang hidup di daerah tundra antara lain muskox dan reindeer mendapat cukup makanan yaitu lumut dan lichens. Sedangkan hewan mamalia yang hidup di daerah tundra adalah beruang kutub, kelinci kutub, dan lemming.
d.      Fauna di hutan basah
Apabila kita masuk ke dalam hutan basah tropika, kita tidak banyak menjumpai binatang, seakan-akan hutan tersebut tidak dihuni. Hal ini disebabkan karena gelapnya dasar hutan dan hewan pada waktu siang banyak yang hidup di tudung sehingga tidak terlihat. Selain itu banyak hewan yang hidup di malam hari. Hewan hutan basah tropik, diantaranya adalah babi hutan, kera, burung, kucing hutan, bajing, dan lain sebagainya. Contoh karnivora yang hidup di hutan basah adalah macan tutul di Asia-Afrika, sedangkan di Amerika jaguar.
e.       Fauna di daerah hutan gugur
Beberapa hewan yang hidup di daerah hutan gugur adalah beruang, rusa, raccoon, bajing, rubah, dan burung pelatuk.
f.        Fauna di daerah taiga
Di daerah taiga kebanyakan hewan yang hidup sebangsa burung yang berimigrasi ke sebelah selatan pada waktu musim gugur, hewan yang khas yang ada di taiga adalah moose. Hewan lainnya beruang hutan, ajag, dan marten.
B.     Persebaran Hewan dan Tumbuhan di Indonesia
Menurut Van Steenis, seorang ahli biologis dari Belanda, di Indonesia terdapat ± 4.000 jenis pohon-pohonan, 1.500 jenis pakis-pakisan, dan 5.000 jenis anggrek. Ia membagi pula tumbuhan-tumbuhan ini dalam tumbuh-tumbuhan berbunga sebanyak ± 25.000 macam dan tumbuhan yang tidak berbunga ± 1.750 macam. Jika disimpulkan tanah air Indonesia kaya akan flora.
Keadaan flora dan fauna di Indonesia dari tahun ke tahun semakin menyusut, hal ini disebabkan karena pertumbuhan penduduk yang begitu cepat, manusia cenderung memanfaatkan flora dan fauna tanpa kendali demi pemuasan kebutuhan hidupnya.
1.      Persebaran Flora di Indonesia
Adanya bermcam-macam tumbuhan di suatu tempat dipengaruhi oleh iklim, tumbuhan di daerah iklim tropik berbeda dengan tumbuhan di daerah iklim dingin, tanah, tumbuhan di tanah kapur berbeda dengan tumbuhan di tanah merah, dan air, tumbuhan di daerah yang banyak air berbeda dengan tumbuhan di daerah yang kurang air.
Karena Indonesia beriklim tropik dan banyak mendapat hujan, maka Indonesia mempunyai hutan-hutan lebat, yang disebut hujan tropis. Ada beberapa jenis hutan, sebagai berikut.
a.      Hutan musim
Hutan yang terdapat di daerah yang dipengaruhi iklim musim. Selama musim kemarau daun pohon di hutan musim banyak yang gugur sehingga meranggas. Sebaliknya, setelah musim penghujan daunnya lebat kembali. Oleh karena itu musim sering juga disebut hutan homogen, karena terdiri dari satu jenis tanaman saja, misalnya hutan jati.
b.      Hutan hujan tropis
Hutan ini terdapat di daerah yang banyak mendapat hujan. Hutan ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut.
1)      Pohonnya berdaun rindang dan lebat.
2)      Sinar matahari tidak dapat menembus langsung ke bawah.
3)      Tanah dan udara dibawah sangat lembap.
4)      Karena uap air sukar keluar.
5)      Pohon di dalam hutan sering dibelit oleh tumbuhan sulur seperti rotan.
6)      Rata-rata ketinggian pohon adalah 60 m.
7)      Banyak tumbuh pohon epifit (pakis dan anggrek).
c.       Hutan bakau
Hutan ini terdapat di daratan rendah dan di sungai yang banyak lumpurnya. Pohon bakau mempunyai akar menjulang di atas permukaan air waktu laut air surut dan terendam waktu air laut pasang. Akar pohon ini bisa menahan erosi dari kikisan ombak air laut, karena akar bakau sangat kuat dalam menyerap air.
d.      Hutan sabana (stepa)
Hutan padang rumput banyak terdapat di daerah yang kurang hujan. Untuk Indonesia daerah yang banyak ditumbuhi sabana (padang rumput yang diselingi semak belukar) adalah daerah Nusa Tenggara, daerah ini sangat cocok untuk peternakan sapi dan kuda.

            Secara rinci flora di Indonesia dibedakan menjadi tiga
a.      Flora Indonesia bagian barat
Wilayah Indonesia Barat termasuk iklim Af dan Flora Indonesia barat sejenis dengan flora di Asia. Di wilayah ini terdapat hutan hujan tropis. Jenis flora yang ada di kawasan Indonesia bagian barat antara lain karet, kapur barus (kamper), kemenyan, meranti, mahagoni (mahoni), dan sebagainya. Dengan pohon yang tinggi-tinggi daunnya kecil dan rindang.
b.      Flora Indonesia timur
Wilayah Indonesia Bagian timur termasuk iklim Aw. Jenis flora di Indonesia timur sama dengan flora yang di Benua Australia, karena sebelum zaman glacial Indonesia timur satu daratan dengan Australia. Jenis floranya antara lain pohon rasamala, eucalyptus, dan sabana dengan ciri-ciri padang rumput, terdapat semak-belukar, dan pohon-pohon rendah.
c.       Flora Indonesia tengah
Wilayah Indonesia bagian tengah termasuk iklim Am. Flora di Indonesia tengah merupakan daerah peralihan antara Indonesia barat dengan Indonesia timur. Jenis flora yang di Indonesia tengah yang sangat menonjol adalah hutam musim (hutan jati) dengan ciri sebagai berikut.
1)      Pohon lebih rendah dari hutan hujan tropis.
2)      Pada musim kemarau daunnya gugur.
3)      Pada musim penghujan mulai bertunas.
Jenis flora yang sangat menonjol adalah kayu cendana di Nusa Tenggara Timur, kayu eboni atau kayu besi yang terdapat di Sulawesi. Selain itu di Nusa Tenggara juga terdapat wilayah sabana, yaitu padang rumput yang diselingin semak belukar.
Manfaat hutan
a.       Menyimpan serta mengatur persediaan air, sebab akar-akar pohon dapat menghambat dan menahan jalannya air yang masuk dalam tanah.
b.      Mencegah erosi dan tanah longsor, karena akar-akar pohon memiliki daya ikat terhadap butiran-butiran tanah.
c.       Menghasilkan bahan mentah untuk industri dan bahan bangunan.
d.      Mengurangi polusi udara, karena udara di sekitar hutan segar dan bersih.
e.       Menyuburkan tanah, karena daun-daun yang berguguran dapat membentuk humus tanah.
f.       Menjaga keseimbangan air tanah, karena curah hujan yang jatuh di daerah hutan akan lebih banyak menjadi pengisi air tanah.
Persebaran flora di Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel Persebaran Flora di Indonesia

No
Jenis Flora Terbanyak
Daerah
1.
Beringin raksasa, bunga bangkai, bakau, berbagai jenis anggrek, kayu meranti, dan pinus.
Pulau Sumatra
2.
Akasia, pinus, jati, rasamala, cemara, dan kayu kina.
Pulau Jawa
3.
Akasia, cendana, kayu putih, dan kemiri.
Kepulauan Nusa Tenggara
4.
Kayu, kamper, rotan, bamboo, dan kayu samin.
Pulau Kalimantan
5.
Anggrek putih, pinus, rotan, kayu jati, dan agalis
Pulau Sulawesi
6.
Kayu putih, sagu, dan anggrek
Pulau Maluku
7.
Tumbuhan bakau, sagu, dan anggrek
Pulau Irian
8.
Pala, kayu cendana, dan cemara geseng
Pulau Bali

Penggolongan hutan
Hutan dapat digolongkan atau dibedakan atas beberapa bagian seperti berikut ini.
a.      Berdasarkan jenis tumbuhan
1)      Hutan homogen, adalah hutan yang terdiri dari satu jenis tumbuhan utama saja. Misalnya hutan pinus, hutan jati, hutan cemara, dan lain sebagainya.
2)      Hutan heterogen, adalah hutan yang terdiri dari berbagai jenis tumbuhan, biasanya merupakan hutan rimba.
b.      Berdasarkan ketinggian tempat
1)      Hutan payau, yaitu hutan yang terdapat di sepanjang pantai.
2)      Hutan rawa, yaitu hutan yang terdapat di daerah rawa, misalnya hutan di pulau Kalimantan.
3)      Hutan dataran rendah, yaitu hutan yang terdapat di dataran rendah.
4)      Hutan pegunungan, yaitu hutan yang terdapat di daerah pegunungan.
c.       Berdasarkan keadaan alam
1)      Hutan hujan tropis, yaitu hutan yang berdaun lebat, pohonnya besar dan tinggi.
2)      Hutan musim, yaitu hutan yang daunnya meranggas pada musim panas dan bersemi pada musim dingin.
3)      Hutan daerah sedang, yaitu hutan yang terdapat di wilayah 250 – 400 Lintang Utara dan Lintang Selatan.
d.      Berdasarkan tujuan dan kegunaan
1)      Hutan produksi, yaitu hutan yang dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan baku produksi, seperti kayu bangunan, kertas perabot rumah tangga, dan lain-lain.
2)      Hutan lindung, yaitu hutan yang dimaksudkan untuk keperluan perlindungan alam dan kelestarian lingkungan, misalnya mencegah erosi dan banjir.
3)      Hutan rekreasi, yaitu hutan yang sengaja diperuntukkan bagi kepentingan rekreasi supaya daerah rekrreasi selalu sejuk dengan pemandangan alam yang indah.
4)      Hutan suaka alam, yaitu hutan yang berfungsi melindungi tumbuhan yang sudah langka dan dikhawatirkan punah.

2.      Persebaran Fauna di Indonesia
Dunia hewan di Indonesia juga cukup banyak, sebab kehidupan hewan sangat dipengaruhi oleh keadaan tumbuh-tumbuhan dan iklim. Keadaan hewan di Indonesia sama dengan keadaan tumbuhan, dimana terjadi akibat terjadinya dangkalan Sunda dan dangkalan Sahul dengan laut tengah Austral-Asia, maka persebaran fauna di Indonesia juga dibagi menjadi tiga daerah fauna.
a.      Fauna Indonesia barat
Di Indonesia Barat, terdapat hewan-hewan yang mirip hewan di daerah Asia, antara lain sebagai berikut.
1)      Harimau, terdapat di Jawa, Madura, dan Bali.
2)      Beruang, terdapat di Sumatra dan Kalimantan.
3)      Gajah, terdapat di hutan-hutan Sumatra, mirip gajah di India.
4)      Badak, terdapat di Sumatra dan Jawa.
5)      Banteng, terdapat di Jawa dan Kalimantan.
6)      Mawas (orang hutan), terdapat di Sumatra dan Kalimantan.
7)      Siamang (kera berwarna hitam dan tak berekor), terdapat di Sumatra.
8)      Tapir, terdapat di Sumatra dan Kalimantan.
9)      Kera Gibbon, terdapat di Sumatra dan Kalimantan.
Di daerah Indonesia barat juga banyak ditemui beberapa kijang (di Sumatra, Jawa, Bali, dan Lombok), kancil pelanduk (di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Kepulauan Karimata), trenggiling (di Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan), singapuar mukang (di Sumatra dan Kalimantan), buaya (di Sumatra dan Kalimantan), ikan lumba-lumba/pesut terdapat di sungai Mahakam Kalimantan Timur.
b.      Fauna Indonesia timur
Hewan-hewan di Indonesia timur mirip hewan Australia, antara lain sebagai berikut.
1)      Kanguru pohon (binatang berkantong), terdapat di Papua.
2)      Tikus berkantong dan musang berkantong, terdapat di Maluku sebelah timur dan Papua.
3)      Burung kasuari, terdapat di Papua, kepulauan Aru, dan pulau Seram.
4)      Burung cendrawasih, terdapat di Papua dan kepulauan Aru.
5)      Burung kakatua berjambul merah dan berjambul putih terdapat di Maluku.
c.       Fauna Indonesia bagian tengah
Hewan-hewan yang terdapat di Indonesia tengah adalah campuran dari fauna Indonesia barat dan timur. Indonesia bagian tengah terdapat hewan-hewan khas Indonesia, antara lain sebagai berikut.
1)      Biawak, komodo, terdapat di pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Binatang ini merupakan sisa hewan purba.
2)      Anoa di Sulawesi.
3)      Babi rusa dengan taring panjang dan melengkung, terdapat di Sulawesi dan Maluku bagian barat.
4)      Burung maleo, sangat langka, terdapat di Sulawesi dan Kepulauan Sangihe.
Daerah flora dan fauna Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian tengah dibatasi oleh garis Wallace. Sedangkan antara flora fauna Indonesia bagian timur dengan Indonesia bagian tengah dibatasi oleh garis Weber. Kedua nama garis ini diambilkan dari nama sarjana ahli biologi yang telah berjasa di bidang kehewanan, yaitu sebagai berikut.
1)        Alfred Russel Wallace, seorang ahli ilmu hewan bangsa Inggris, jasanya:
a)      mengadakan penelitian tentang fauna di hutan Amazone.
b)      mengadakan penelitian di Indonesia tentang fauna pada tahun 1854-1862.
2)        Max Willem Carl Weber, seorang sarjana bangsa Jerman dalam bidang ilmu hewan (zoology), jasanya:
a)      memimpin ekspedisi laut Sibolga tahun 1899-1900.
b)      pada tahun 1888 mengadakan penelitian fauna di Indonesia Timur.
3.      Hubungan Sebaran Tumbuhan dan Hewan dengan Kondisi Fisik Lingkungan Indonesia
Sebelum zaman glacial, yaitu sebelum terjadinya benua, Indonesia merupakan Negara yang masih satu daratan dengan benua Asia dan benua Australia. Yaitu untuk Indonesia barat, Sumatra, dan Jawa dulunya satu daratan dengan benua Asia. Sedangkan Papua satu daratan dengan benua Australia. Setelah bumi terjadi dan es yang ada di kutub utara dan selatan mencair, maka daratan yang rendah tergenang air, sedang daratan tinggi tidak tergenang air dan terjadilah pulau-pulau.
Dataran rendah yang tergenang air, terjadilah laut Cina Selatan, laut Jawa, dan laut Arafura dan dataran tinggi terjadilah pulau Sumatra, pulau Jawa, dan pulau Papua. Dengan demikian pulau Jawa dan Sumatra dulunya merupakan satu daratan dengan benua Asia, sedangkan pulau Papua satu daratan dengan benua Australia.
Dikarenakan pulau Jawa dan Sumatra satu daratan dengan benua Asia, maka jalur pegunungan, jenis tanah, jenis flora dan fauna sama dengan yang ada di Asia. Sedangkan jenis tanah/pegunungan, flora dan fauna yang di Papua sama dengan jenis tanah/pegunungan, flora dan fauna yang ada di Australia.
Dilihat dari jalur pegunungan yang masuk ke Indonesia, Indonesia terbagi menjadi dua dangkalan, yaitu dangkalan Sunda dan dangkalan Sahul. Dangkalan Sunda adalah wilayah Indonesia barat yang dulunya satu daratan dengan Asia, dan dangkalan Sahul yaitu Indonesia timur yang dulunya satu daratan dengan Australia.
Dengan demikian, maka jenis flora dan fauna yang ada di Indonesia juga dibedakan menjadi tiga, berdasarkan kondisi fisik Indonesia, yaitu jenis flora fauna Indonesia barat, flora fauna Indonesia timur, flora fauna Indonesia peralihan.
Dari uraian di atas kalau kita simpulkan maka flora fauna Indonesia barat keberadaannya sama dengan flora fauna yang ada di benua Asia, sedangkan flora fauna di Indonesia timur keberadaannya sama dengan flora fauna yang ada di Australia.

4.      Dampak Kerusakan Hewan dan Tumbuhan terhadap Kehidupan
a.      Keadaan flora fauna di Indonesia
Keadaan flora fauna di Indonesia dari tahun ke tahun semakin menyusut, hal ini disebabkan karena pertumbuhan penduduk yang begitu cepat. Manusia cenderung memanfaatkan flora fauna tanpa kendali demi pemuasan kebutuhan hidupnya. Contoh orang menebang pohon di hutan tanpa perhitungan tanpa perhitungan untuk dijadikan perumahan atau lading, akibatnya hutan menjadi gundul, gersang, dan kesuburan tanah menjadi rusak. Demikian juga fauna, dewasa ini banyak hewan-hewan yang populasinya menurun, karena diburu manusia untuk kebutuhan hidupnya, akibat hewan-hewan di Indonesia semakin habis, punah keberadaanya, bahkan keberadaan sebagian dari hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan sekarang ini dikatakan telah langka.
Faktor yang menyebabkan kerusakan flora dan fauna antara lain karena pengaruh evolusi, seleksi alam, tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan, perusakan oleh manusia, dan bencana alam.
1)      Pengaruh evolusi
Evolusi adalah perubahan makhluk hidup secara perlahan-lahan dalam jangka waktu yang sangat lama, dari bentuk yang sederhana menjadi bentuk yang lebih sempurna. Makhluk hidup selalu mengalami perubahan secara perlahan-lahan dalam waktu yang sangat lama, perubahan tersebut menyebabkan adanya penyimpangan dari struktur aslinya, sehingga akan muncul spesies baru. Tumbuhan dan hewan yang ada sekarang ini, bukanlah merupakan yang pertama di bumi, tetapi berasal dari makhluk hidup di masa lampau yang telah mengalami perubahan.
2)      Seleksi alam
Seleksi alam adalah penyaringan suatu lingkungan hidup sehingga hanya makhluk hidup tertentu yang dapat bertahan hidup atau mampu menyesuaikan diri untuk tetap hidup dan tinggal di lingkungan hidup tersebut. Sebaliknya makhluk hidup yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya akan punah atau pindah ke lingkungan hidup lain. Ada dua faktor yang menentukan seleksi yaitu sebagai berikut.
a)      Faktor alam
Faktor alam tertentu membatasi kemampuan hidup suatu organisasi, misalnya di daerah gurun atau padang pasir hanya terdapat jenis tumbuhan tertentu yang tahan terhadap iklim panas dan jumlah air yang sangat sedikit. Begitu pula hewan-hewan tertentu tidak dapat hidup pada keadaan alam tertentu.
b)      Faktor lingkungan
Sesame makhluk hidup sering bersaing dalam memperebutkan makanan dan ruang hidup. Akibat persaingan tersebut yang kalah akan punah sedang yang menang akan tetap bertahan hidup.
3)      Adaptasi lingkungan
Adaptasi adalah usaha makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan keadaan atau kondisi lingkungan hidupnya. Penyesuaian diri terhadap lingkungan yang berbeda akan menghasilkan makhluk baru yang berbeda pula.
4)      Perusakan oleh manusia
Karena keterbatasan ekonomi dan tuntutan kehidupan, manusia banyak memburu binatang dan menebang tumbuhan. Tindakan manusia yang membabi buta tanpa mengedepankan pembangunan berkelanjutan akan menyebabkan banyak hewan-hewan mati dan bahkan punah. Sementara penebangan pohon di hutan tanpa perhitungan, mengakibatkan hutan menjadi gundul dan mata air kering.
5)      Bencana alam
Berbagai macam bencana alam yang terjadi di permukaan bumi mempercepat rusaknya lingkungan dan kehidupan flora fauna. Bencana alam tersebut antara lain gempa bumi, tanah longsor, letusan gunung api, banjir, angin topan, dan sebagainya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepunahan jenis ataupun varietas flora dan fauna
1)      Berkurangnya luas lahan.
2)      Kerusakan lahan, misalnya kerusakan hutan, sehingga hewan yang hidup di dalam hutan akan punah.
3)      Eksploitasi atau penggunaan yang berlebihan.
4)      Penggunaan teknologi yang tidak sesuai dengan keadaan lingkungan.
5)      Perburuan jenis ikan paus yang berlebihan.
6)      Di Indonesia terjadi perburuan rusa.
7)      Pengambilan rotan dan kayu ramin yang berlebihan.
8)      Penggunaan herbisida dan insektisida yang berlebihan.
9)      Pencemaran oleh industry dapat menyebabkan kepunahan jenis tertentu.
b.      Usaha-usaha pelestarian flora dan fauna
1)      Pelestarian flora
Pelestarian tumbuhan dititikberatkan pada pelestarian hutan, karena hutan lebih berkaitan dengan kehidupan makhluk hidup di bumi, antara lain hutan menghasilkan sumber air, menghasilkan gas oksigen yang penting untuk pernapasan makhluk hidup dan hutan merupakan sumber penghasilan manusia dan sebagainya.
Pelestarian flora di Indonesia
a)      Dibentuk polisi khusus kehutanan untuk menjaga kelestarian hutan, agar hutan tidak dicuri kayunya.
b)      Penerangan lewat media cetak dan media elektronik tentang pentingnya hutan.
c)      Merumahkan orang-orang perambah hutan agar tidak merusak hutan.
d)     Peningkatan sistem tebang pilih dengan Sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI).
Pelestarian hutan tingkat dunia
a)      Dalam rangka studi hutan, Sulawesi dan Kalimantan ditetapkan sebagai Pusat Penelitian Kehutanan Internasional. (Centre for International Foresty Ressarch = CIFOR).
b)      KTT – Bumi di Rio de Janeirio, tanggal 3 Juni 1992. Disebut United Nations Conference of Environment Development, membahas pentingnya lingkungan hidup, khususnya hutan dan pengaruhnya terhadap lapisan ozon.
2)      Pelestarian fauna
Untuk pelestarian fauna dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI No. 301/1991 dan diadakan cagar alam di berbagai tempat di Indonesia. Cagar alam adalah kawasan untuk melindungi lingkungan alam, agar terjaga keasliannya. Suaka margasatwa adalah kawasan untuk melindungi satwa yang sudah dianggap langka atau hampir punah. Hewan-hewan yang dilindungi antara lain sebagai berikut.
a)      Berdasarkan Ordinasi dan Peraturan Perlindungan Binatang Liar no. 134 dan 266 Tahun 1931, satwa yang dilindungi adalah:
(1)   orang hutan
(2)   trenggiling
(3)   burung cendrawasih
(4)   biawak komodo
(5)   gajah
(6)   banteng
(7)   babi rusa
(8)   kancil
b)      Berdasarkan SK Menteri Pertanian no. 421/KPTA/um/8/1972, satwa yang dilindungi adalah:
(1)   harimau
(2)   macan tutul
(3)   monyet hutan
(4)   kakatua
(5)   beo
(6)   kasuari
(7)   kuau
(8)   burung alap-alap
c)      Berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 427/KPTA/um/7/1972, satwa yang dilindungi adalah:
(1)   harimau Sumatra
(2)   bajing Sumatra
(3)   itik liar
(4)   ikan duyung
(5)   burung kipas baru
(6)   kelinci Sumatra
(7)   mandar Sulawesi
d)     Berjenis-jenis burung, yaitu dara laut, bebek laut, bangau hitam, kantul, bangau putih, platuk besi, alap-alap putih, dara mahkota, ibis hitam dan putih, jalak Bali, rangkok, angsa laut, bluwok, kasuari, dan burung cendrawasih. Binatang menyusui yaitu mawas, singapuar, siamang, badak, tapir, kambing hutan, dan trenggiling.
c.       Persebaran lokasi cagar alam dan suaka margasatwa di Indonesia
Suaka margasatwa yang ada di Indonesia antara lain sebagai berikut.
1)      Suaka margasatwa gunung Leuser di Aceh, merupakan suaka margasatwa terbesar di Indonesia. Hewan-hewan yang mendapat perlindungan di tempat ini antara lain gajah, badak Sumatra, orang hutan, tapir, harimau, kambing hutan, rusa dan berjenis-jenis burung.
2)      Suaka margasatwa Sumatra Selatan I di Sumatra Selatan, adalah tempat untuk melindungi tapir, badak, kerbau liar, harimau Sumatra, gajah, dan rusa.
3)      Suaka margasatwa Baluran di Jawa Timur, adalah tempat untuk melindungi badak, banteng, kerbau liar, anjing hutan, berjenis-jenis kera, lutung, rusa, babi hutan, ayam hutan, dan burung merak.
4)      Suaka margasatwa Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur, terutama untuk melindungi biawak komodo. Satwa lainnya burung kakatua, ayam hutan, kerbau liar, babi hutan, dan rusa.
5)      Suaka margasatwa Pulau Mojo di Sumbawa, melindungi burung kakatua, ayam hutan, sapi liar, babi hutan, dan rusa.
6)      Suaka margasatwa Kutai di Kalimantan Timur, melindungi babi hutan, banteng, orang utan, rusa dan bekantan.
7)      Suaka margasatwa pulau Panaitan Ujungkulon, melindungi ular sanca bantuan dari kebun binatang London.
8)      Suaka margasatwa pulau Kaget di tengah sungai Barito, melindungi bekantan, dan kera berhidung mancung.
Ada pula kawasan hutan yang disebut suaka alam atau cagar alam. Cagar alam yang terkenal di Indonesia antara lain sebagai berikut.
1)        Cagar alam Pulau Dua di Jawa Barat, disamping untuk melestarikan hutan, pulau ini juga digunakan untuk melindungi berjenis-jenis burung laut. Oleh karena itu, tempat ini terkenal dengan sebutan Kerajaan Burung.
2)        Cagar alam Cibodas di kaki Gunung Gede Jawa Barat, merupakan cadangan hutan di daerah basah.
3)        Cagar alam Ujung Kulon di Jawa Barat, melindungi badak bercula satu, rusa, buaya, banteng, babi hutan, burung merak.
4)        Cagar alam Penanjung Pangandaran di Jawa Barat, untuk melestarikan hutan dan melindungi rusa, banteng, dan babi hutan.
5)        Cagar alam Lalijiwo di Jawa Timur terdapat hutan alam flora alpine dan berjenis-jenis cemara.
6)        Cagar alam raflesia di Bengkulu, melindungi bunga raflesia yang merupakan bunga terbesar di dunia.
7)        Cagar alam Sibolangit di Sumatra Utara, terdapat flora asli khas dataran rendah Sumatra, antara lain pohon lebah dan bunga bangkai raksasa.
8)        Cagar alam Limbo Panti di Sumatra Barat, terdapat tumbuh-tumbuhan khas Sumatra Barat dan hewan-hewan antara lain tapir dan siamang.
9)        Cagar alam Florence Papua, melindungi flora asli Papua yaitu rasamala, eucalyptus (minyak kayu putih).

C.    Lembaga Biologi
Untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, Indonesia memiliki lembaga-lembaga biologi seperti berikut ini.
1.      Kebun Raya Bogor dengan cabang-cabangnya di Cibodas (Jabar), dan Purwodadi (Lawang/Jatim), Eka Karya (Bali), dan Sibolangit (Sumut). Di dalam Kebun Raya Bogor tumbuh semua jenis tanaman tropis sebanyak ± 16.000 pohon, meliputi ± 6.000 spesies.
2.      Herbarium Boriense dengan koleksi ± 1 juta set.
3.      Museum Zoologicum Bogorience menyimpan ± 600.000 ekor binatang dalam bentuk diawetkan.
4.      Lembaga Penelitian Botani di Bogor.
5.      Lembaga Penelitian laut di Jakarta.

D.    Dampak dari Kerusakan Flora dan Fauna
Dengan makin bertambahnya penduduk, maka banyak daerah-daerah yang dahulu merupakan hutan belantara dengan bentuk keasliannya (baik mengenai tanah, tumbuhan, maupun dunia hewannya) diubah menjadi daerah-daerah tempat tinggal. Akibatnya ada beberapa jenis tumbuhan dan hewan yang lenyap atau punah, sehingga tidak dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang. Di antara jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan tersebut banyak yang tidak terdapat di bagian lain dunia ini kecuali di bumi Indonesia.
Dengan keadaan seperti di atas, maka perlu diadakan tempat-tempat perlindungan bagi tumbuh-tumbuhan dan hewan, supaya dapat tumbuh dan hidup bebas di alam asli. Begitu pula untuk daerah yang memiliki formasi batuan tertentu, daerah-daerah pos vulkanik dan lainnya. Daerah perlindungan untuk jenis tumbuh-tumbuhan disebut cagar alam, sedangkan daerah perlindungan bagi hewan-hewan dinamakan suaka margasatwa.
Dengan adanya undang-undang dan ancaman hukuman di daerah tersebut, orang dilarang melakukan hal-hal berikut ini.
1.      Berburu atau membunuh hewan-hewan tertentu.
2.      Menebang atau merusak tumbuh-tumbuhan.
3.      Mengerjakan tanah untuk tempat tinggal dan pertanian.
Dampak kerusakan flora dan fauna terhadap kehidupan.
1.      Berkurangnya sumber daya alam
2.      Dapat menimbulkan bencana tanah longsor dan banjir.
3.      Penelitian secara ilmiah akan terhambat karena punahnya jenis flora dan fauna tertentu.
4.      Akan memusnahkan habitat lain karena terputusnya rantai makanan.